Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2015

Review Buku Gadis Kretek

BY Unknown IN No comments

Sampul Buku Gadis Kretek
Siapa bilang saat kita bicara kretek, di situ tidak ada pembicaraan tentang perempuan? Siapa bilang bicara tentang kretek juga tak ada hubungannya dengan politi? Nah, bacaan ini adalah penyatuan antara perempuan, politik dalam sebuah kretek.

Bagi saya, ini adalah sebuah roman yang masih dilatarbelakangi oleh keadaan genting negara. Ketika mereka menyatakan perang fisik pada warganya sendiri sebab perbedaan ideologi. Kita mungkin tak akan pernah menyangka bahwa industri kretek di Indonesia, sebenarnya sama tuanya dengan usianya. Ada cerita tentang industri kretek yang berkembang mengantar kemerdekaan Indonesia yang terus berjalan usai proklamasi.

Dalam dunia bisnis, terkadang perempuan dijadikan objek. Objek yang dieksploitasi, terutama untuk masalah pemasaran. Bermodal tampilan, tempel bedak, pakai gincu, baju minim, produk akan laku sebab didompleng dari action si perempuan. Namun bagaimana dengan Jeng Yah, tokoh utama dalam kisah ini? Dialah tokoh utama dalam industri kretek ayahnya. Sebab dari lintingan Jeng Yah, kretek keluarganya terkenal.

Hingga akhirnya, perang itu datang. Merampas ayahnya. Mereka diciduk sebab dikira PKI. Dulu, setiap hal yang berlabel merah, dicap PKI. Hahaha. Lucu kan negeri ini? Eh, salah. Dunia ini maksud saya. Dunia ini lucu.

Selain ayahnya, suami Jeng Yah juga dirampas.

Beberapa kali di sudut buku ini, saya harus mendengus sebal. Sebab penulisnya dengan piawai mempermainkan emosi pembaca. Namun terimakasih. Sudah memberi bacaan yang berisi. Tidak melulu kisah percintaan picisan yang kosong. Walaupun bagi saya, Ratih Kumala masih bisa melakukan eksplorasi lebih dalam.

Oh iya, membunuh kretek, itu membunuh Indonesia lho.

Review Buku Teologi Pembebasan

BY Unknown IN 2 comments

Teologi Pembebasan
Ini salah satu buku yang cukup 'serius' untuk saya lahap. Di antara berbagai judul novel yang menghiasi minggu saya, Teologi Pembebasan adalah angin sejuk yang berhembus di antara kerontangnya sikap realis dari berbagai novel.

Inilah bacaan yang harusnya dipahami sebelum kita ikut-ikutan mencela agama, mencela keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita, bahkan telah melakukan tindak diskriminasi. Buku ini seperti pedoman yang menemani langkah kita yang mencoba untuk mengantar bagaimana agama menjadi candu dalam sudut pandang Marx.

Berbicara agama sebenarnya tak mudah. Tak segampang ustad-ustad kondang televisi yang berbicara surga-neraka, jika kita berdosa masuk neraka, dan berbuat baik masuk surga. Mereka bukan Tuhan yang memutuskan kita masuk ke mana. Dan satu lagi, kita diajak jadi cerdas melihat kondisi keberagamaan. Misalnya, kayak peristiwa pemilu yang berlangsung kemarin tuh. Ketika setiap capres dibacking oleh masing-masing kelompok agama, mereka mengaitkan tokoh capres dengan agama. Maksud saya, kaitan politis tentunya. Yang ujung-ujungnya memberi wacana kalau si capres A alimlah atau si capres B kafir.

Hahahaha.

Saya cuma bisa tertawa. Ternyata serumit itu realita keberagamaan kita. Banyak dari pemeluk agama yang lupa kalau mereka beragama, terkadang keyakinannya disangkutpautkan dengan agenda politik. Haleluya! Jika kita mau sabar aja baca buu ini, serius, suer, sambar petir, buku ini seperti buka mata, hati, juga tangan kita. hehehe. Kita jadi sadar, bahwa beragama adalah sesuatu yang membebaskan.

Membebaskan bagaimana?
Nah, itu jadi syarat. Lebih lanjut, silahkan dibaca sendiri.

Sabtu, 22 November 2014

Review Buku Mandar Nol Kilometer

BY Unknown IN , , No comments

Judul Buku : Mandar Nol Kilometer, Membaca Mandar Lampau dan Hari Ini
Penulis : Muhammad Ridwan Alimuddin
Penerbit : Ombak
Tahun : 2011


Berapa kali mengunjungi tanah Mandar meninggalkan kekaguman tersendiri. Seperti ada magnet kuat yang membuatnya untuk dikaji ulang bahkan diperhatikan lebih dekat. Pada suatu sore saat berkunjung ke toko buku, ada Mandar Nol Kilometer di sana. Buku di rak itu bergegas berpindah tangan.

*

Sebuah bacaan budaya yang menarik adalah bacaan yang disajikan secara etnografi, sebuah kajian komprehensif dan detail mengkaji kebiasaan masyarakat hingga menghasilkan sebuah budaya, adat-istiadat, bahasa, pola interaksi, serta hal paling terdalam dalam masyarakat, perasaan individu. Dan menurut saya, Mandar Nol Kilometer yang dituliskan oleh Muhammad Ridwan Alimuddin ini mengisi kehausan kita mengenai rekam jejak budaya bangsa. Siapa lagi yang harus menuliskannya jika bukan anak bangsa sendiri?

Secara garis besar, buku ini terbagi atas tujuh bagian tulisan. Masing-masing bagian diberi tema tertentu oleh penulis. Mulai dari sejarah Mandar hingga budaya literasi yang digiatkan oleh anak Mandar. Pada bagian sejarah, kita tidak diajak langsung bertamasya ke Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, tapi ke sebuah kota bernama Tinambung. Selain tempat kelahiran penulisnya, Tinambung dulunya adalah sebuah kota dengan geliat pengetahuan yang tinggi.

Kampung Mandar, seperti halnya perkampungan Bugis, juga tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Kampung Mandar paling terkenal adalah Ujung Lero.

"Kampung orang Mandar yang paling terkenal adalah Ujung Lero di Kabupaten Pinrang, tak jauh dari kota Pare-pare. Wajar saja, letaknya hanya beberapa jam berlayar dari teluk Mandar,"
~hal.22, Mandar Nol Kilometer

Tanah Mandar juga terkenal dengan beragam kisah gaibnya. Penyebar Islam Tosalamaq Imam Lapeo, yang hingga kini masih bisa dijumpai makamnya di halaman Mesjid Nur Al-Taubah di Lapeo, memiliki kisah gaibnya tersendiri. Suatu ketika ia tengah berceramah pada murid-muridnya. Di tengah forum, ia lalu keluar ruangan dan melakukan gerakan dengan mengangkat tangan ke atas. Tak lama setelah itu, datanglah seorang tamu dari Bugis yang berterimakasih atas pertolongan Tosamaq Imam Lapeo. Tamu ini menceritakan pengalamannya diterjang ombak dan badai ganas di lautan lalu ditolong oleh Tosamaq Imam Lapeo.

Perkara tradisi juga menjadi hal yang penting di tanah Mandar. Posiq (pusar; pusat) memiliki posisi tersendiri dalam kebiasaan masyarakat. Jika membuat sesuatu, pastilah memiliki pusat. Bahkan jika mereka memiliki tradisi membuat mobil atau pesawat, pasti memiliki pusat. Istilah pusat pun juga berhubungan dengan perlakuan mereka ketika ada yang akan pergi melaut hingga hendak melaksanakan ibadah haji. Makna filosofis Posiq tak lain sebagai ritual yang menghubungkan manusia dan Tuhan dengan mengingatnya, mengingat bahwa padaNyalah harapan dari setiap usaha.

Budaya Mandar adalah apa yang ada di masa lalu, diyakini masyarakatnya, hingga terciptanya budaya baru sebab pertemuan budaya lain. Budaya kontemporernya juga bergeliat sering perkembangan zaman. Karya pemula menempati hati masyarakat. Saya jadi penasaran, bagaimana aroma film indie berjudul 45!!! karya anak Mandar.

Rabu, 13 Agustus 2014

Tenun Biru

BY Unknown IN , , , , , , No comments

Judul: Tenun Biru
Penulis: Ugi Agustono J.
Kategori: Novel
Penerbit: Nuansa Cendekia, 2012
Tebal: 362 Halaman
Harga: Rp39.000


Ini adalah feature yang ditulis sebagai fiksi. ~Remy Sylado

 Ketika membaca sampul belakang buku ini untuk pertama kali, saya memantapkan hati. Nama besar Remy Sylado yang terpampang membuat saya yakin. Penikmat sastra yang baik, pasti mengenali karya maha dasyatnya. Apa lagi yang bisa menjadi jaminan jika salah satu sastrawan terbaik berkomentar atasnya.

Novel Tenun Biru dituliskan oleh Ugi Agustono J. Terbagi dalam 15 bab sebanyak 362 halaman. Lumayan tebal untuk dihabiskan dalam sehari. Benarlah yang dikatakan Remy Sylado. Sejak halaman awal, saya seperti merasa berada di atas tumpukan feature. Kisah ini dibuka manis dengan kegiatan sosial seorang perempuan urban dari sebuah Gang Kumuh di Jakarta.

Ratna, nama tokoh utama dalam novel ini. Digambarkan sebagai perempuan yang sempurna. Lahir dari keluarga mapan, mendapatkan pendidikan yang baik, karir yang gemilang, serta peduli pada sesama. Bukankah tokoh Ratna ini begitu mengikuti karakter manusia sempurna ala pelajaran PPKN yang didoktrinkan Orde Baru?

Janus, karakter pendukung dalam novel ini. Digambarkan seperti apa Janus? Jika Ratna digambarkan sesempurna paparan saya, Janus pun begitu. Memiliki jabatan yang bagus diperusahaan, ganteng, kaya, dan perhatian pada Ratna, pacarnya.

Bukankah mereka berdua adalah pasangan serasi? Ya, mereka adalah wujud pasangan utopis di kehidupan realis ini.

Sebenarnya, isi buku ini tidak melulu membicarakan Ratna dan Janus. Penulis ingin fokus memperkenalkan keindahan alam Indonesia, bahwa ada jutaan tempat eksotis namun tak pernah terjamah. Saya mengapresiasi baik pengenalan penulis pada beragam budaya di Indonesia. Ia memotret keindahan budaya Toraja dan Kalimantan. Namun, lagi-lagi kisah Ratna seperti sesuatu yang tak tepat diletakkan di novel ini.

Jika suatu hari, saya akan diberi kesempatan bertemu penulisnya, saya akan mengajukan pertanyaan. Mengapa karakter Ratna harus dibuat demikian?

Untuk buku ini, saya memberinya bintang tiga. Selamat membaca.