Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 September 2014

Resensi Buku Madre - Dewi Lestari

BY Unknown IN , , , , , , , , No comments

Cover Buku Madre

 Judul : Madre
Penulis: Dewi Lestari
ISBN : 9786028811491
Rilis : 2011
Halaman : 162
Penerbit: Bentang
Edisi: Cetakan kedua




***

Cover bukunya menarik, berwarna orange tua dengan latar sketsa klasik. Sehangat sampulnya, isinya pun adalah sajian hangat. Pertama kali melahap kehangatannya di tahun 2011, saat diterbitkan pertama kali. Selanjutnya, untuk kesekian kalinya yang tak bisa terhitung, seluruh bab demi bab habis dicerna.

Buku ini renyah, lembut, sekaligus menggigit. Madre tak habisnya menyuguhkan cerita serta puisi yang seolah biasa namun luar biasa. Madre menjadi kumpulan tulisan Dee Lestari yang begitu kaya. Terdiri dari 13 fiksi dan prosa pendek.

Cerita pendek tersebut terdiri dari Madre, Have You Ever, Semangkuk Acara Untuk Cinta dan Tuhan, Guruji, dan Menunggu Layang-Layang. Sebagai cerpen pembuka sekaligus judul buku, Madre seperti merampungkan banyak hal dari dialektika pemikan Dee. Ia seorang penulis cerdas, melakukan pencarian hidup, menemukan tujuan, dan mengambil maknanya. Setiap cerpen begitu berwarna, begitu pula pada prosa serta puisinya. Ada pelangi di setiap karya Ibu Suri, sebutan dari penggemarnya.

Kisah Madre, misalnya. Ia sadar bahwa keanekaragaman adalah sesuatu yang niscaya. Kita pasti berbeda. Warna kulit, rambut, asal keturunan, postur tubuh, serta apa yang kita pikirkan. Dee dengan cerdasnya menangkap hal berbeda itu dan membingkainya pada kehidupan seorang Tansen Wuisan. Keturunan India yang kemudian sadar bahwa dalam tubuhnya mengalir darah seperempat Tionghoa. Menarik bukan? Hanya itu yang dikisahkan Dee? Tentu tidak.

Ibu dari Keenan dan Atisha ini juga memiliki ciri khas dalam karyanya. Ia menjunjung tinggi satu hal yang disebut kemanusiaan. Dan sikap itu ia tuangkan bagaimana ia menjaga banyak hal secara manusiawi. Ini bisa kita simak ketika ia menceritakan bahwa biang roti diperlakukan secara manusiawi.

".... Madre mesti dirawat orang muda yang semangatnya baru .... " hal. 7, Madre.

Pada bagian lain malah disebutkan bahwa Madre menjadi warisan.

".... Namun Madre hanya bisa ia turunkan pada seseorang yang punya hubungan langsung ...." hal. 13, Madre.

Juga sapaan yang diberikan pada Madre untuk menunjukkan bagaimana harusnya memperlakukan ia.

".... Sebelum menutup pintunya, Bu Cory sempat-sempatnya berkata, Selamat Istirahat Madre." hal. 41, Madre

Usaha, kerja keras, menyelesaikan konflik, adalah keahlian lain Dee. Dibalik upayanya, ia tak lupa menyisipkan sisi spiritual pada setiap karyanya. Ini terlihat dari berbagai kontemplasi setiap tokoh. Metamorfosis mereka terbangun pada karakter tokoh. Ini menunjukkan bahwa Dee juga mengalami transformasi bersama para tokohnya.

Selamat membaca Madre, selamat mengalami perubahan diri.

Rabu, 13 Agustus 2014

Tenun Biru

BY Unknown IN , , , , , , No comments

Judul: Tenun Biru
Penulis: Ugi Agustono J.
Kategori: Novel
Penerbit: Nuansa Cendekia, 2012
Tebal: 362 Halaman
Harga: Rp39.000


Ini adalah feature yang ditulis sebagai fiksi. ~Remy Sylado

 Ketika membaca sampul belakang buku ini untuk pertama kali, saya memantapkan hati. Nama besar Remy Sylado yang terpampang membuat saya yakin. Penikmat sastra yang baik, pasti mengenali karya maha dasyatnya. Apa lagi yang bisa menjadi jaminan jika salah satu sastrawan terbaik berkomentar atasnya.

Novel Tenun Biru dituliskan oleh Ugi Agustono J. Terbagi dalam 15 bab sebanyak 362 halaman. Lumayan tebal untuk dihabiskan dalam sehari. Benarlah yang dikatakan Remy Sylado. Sejak halaman awal, saya seperti merasa berada di atas tumpukan feature. Kisah ini dibuka manis dengan kegiatan sosial seorang perempuan urban dari sebuah Gang Kumuh di Jakarta.

Ratna, nama tokoh utama dalam novel ini. Digambarkan sebagai perempuan yang sempurna. Lahir dari keluarga mapan, mendapatkan pendidikan yang baik, karir yang gemilang, serta peduli pada sesama. Bukankah tokoh Ratna ini begitu mengikuti karakter manusia sempurna ala pelajaran PPKN yang didoktrinkan Orde Baru?

Janus, karakter pendukung dalam novel ini. Digambarkan seperti apa Janus? Jika Ratna digambarkan sesempurna paparan saya, Janus pun begitu. Memiliki jabatan yang bagus diperusahaan, ganteng, kaya, dan perhatian pada Ratna, pacarnya.

Bukankah mereka berdua adalah pasangan serasi? Ya, mereka adalah wujud pasangan utopis di kehidupan realis ini.

Sebenarnya, isi buku ini tidak melulu membicarakan Ratna dan Janus. Penulis ingin fokus memperkenalkan keindahan alam Indonesia, bahwa ada jutaan tempat eksotis namun tak pernah terjamah. Saya mengapresiasi baik pengenalan penulis pada beragam budaya di Indonesia. Ia memotret keindahan budaya Toraja dan Kalimantan. Namun, lagi-lagi kisah Ratna seperti sesuatu yang tak tepat diletakkan di novel ini.

Jika suatu hari, saya akan diberi kesempatan bertemu penulisnya, saya akan mengajukan pertanyaan. Mengapa karakter Ratna harus dibuat demikian?

Untuk buku ini, saya memberinya bintang tiga. Selamat membaca.

Selasa, 15 Juli 2014

Anna Karenina

BY Unknown IN , , , No comments

Judul : Anna Karenina
Penulis : Leo Tolstoy
Penerbit : Gradien Mediatama 
Tahun : 2013
Hal : 240
Edisi : Bahasa Indonesia
Leo Tolstoy adalah pencerita yang baik. Kisah Anna Karenina dibingkai dengan latar kehidupan sosial politik di zamannya. Terlahir dalam keluarga bangsawan, Tolstoy mampu merinci dengan baik bagaimana pergaulan kaum elite Moskow dan daerah di sekitarnya. Diterima secara sosial adalah hal wajib yang dibutuhkan setiap orang.

Anna Karenina memiliki segalanya. Kecantikan, suami yang memiliki jabatan, keluarga yang harmonis, serta terpandang di kalangan bangsawan. Setiap perempuan Moskow membicarakannya. Sikapnya yang ramah dan rendah hati membuat orang-orang terkadang iri padanya.

Terlalu banyak senyum palsu, pertemanan palsu, hingga kenalan palsu, yang berada di sekelilingnya. Pada umumnya, kaum bangsawan Moskow seperti kaum bangsawan lainnya, hanya akan memilih teman bergaul dari kalangan mereka saja. Mereka rela mengorbankan apa saja demi diterima dalam lingkup pergaulan kaum bangsawan. Diundang dalam sebuah pesta jadi salah satu indikator bagaimana masyarakat sosial menerima.

Latar materialisme dalam karya ini begitu kental. Lolstoy kemudian menampilkan orang-orang dengan watak yang tak jauh dari pergaulan kaum bangsawan. Pria bangsawan yang memiliki jabatan baik, pria bangsawan dengan pesona menggaet wanita, pria bangsawan yang berselingkuh, wanita bangsawan yang akan bertukar kabar dan gosip kaum elit, wanita bangsawan yang sering mengadakan pesta, wanita bangsawan yang menilai calon pendamping hidupnya dari status sosial, serta wanita bangsawan yang siap merebut suami orang. Bukankah mereka sama saja?

Kecerdasan Tolstoy nampak ketika memunculkan tokoh bernama Levin. Seorang bangsawan yang nampak memberontak pada kebiasaan modern Moskow.

Aku hanya sedikit kewalahan dengan kehidupan Moskow. Terlalu... apa yah, terlalu modern terlalu glamor,. Tidak dapat ku mengerti. Bahkan urusan kuku jari saja, aku tidak paham. (Anna Karenina, Leo Tolstoy. Hal. 27)

Peran Levin tidak mengambil porsi banyak. Meski tokoh sentralnya adalah Anna, Levin adalah penyeimbangnya. Ketika Anna hadir di pesta Debutante Kitty, pesta perkenalan seorang remaja yang menginjak dewasa, ia menempati ruang karena diterima secara sosial. Bagi Levin, ia hanya pria yang jatuh cinta kepada Kitty, keponakan Anna. Tatkala Levin ditolak oleh Kitty saat dilamar beberapa saat sebelum pesta mulai, saat itu pula ruang sosial menolaknya.

Orang-orang terlalu sibuk dengan citra. Menampilkan wajah baik, membanggakan diri, seolah tanpa celah. Jika Tolstoy tidak mengahadirkan perubahan sikap Anna, maka ia gagal. Latar belakangnya sebagai penganut kristen dan paham anarki membuatnya membangkang pada sistem sosial. Tolstoy adalah pelopor perlawanan tanpa kekerasan yang mengilhami Gandhi kemudian.

Ketika hidup dipenuhi gelimang harta, kekayaan, atau jabatan saat itu pula kita akan merasa hal itu tak pernah cukup. Dan Anna merasakannya. Ada sesuatu yang sederhana, sesuatu yang ingin diperjuangkannya. Meski cara yang ditempuhnya salah.

Selamat membaca Anna Karenina. Kisah cinta dramatis yang disuguhkan di dalamnya tak lain untuk mengingatkan kepada kita, bahwa kita pun terjebak dalam kehidupan yang mementingkan status sosial. Menilai orang lain atas dasar keturunan, jabatan, kekayaan, relasi. Persis seperti kehidupan di masa Orde Baru. Cerdaslah menangkap pesannya.

Sabtu, 07 Juni 2014

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

BY Unknown IN , , , No comments

Judul : Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan 
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : Maret 2010
ISBN13 : 9789791227797
Bahasa : Indonesia
Seri : I
 
 
Siapa yang mengenalmu, akan mencintaimu. Sungguh. Cintanya semurni dirimu yang dipenuhi cinta. Kasihmu tak terbatas hanya pada manusia saja. Kelembutanmu bahkan menjadi pergunjingan semesta alam. Dan kau tahu itu. Walau begitu, tak ada satupun alasan yang membuatmu meninggikan hati. Engkah malah merendah dalam keagungan dan kemuliaanmu. Engkau Muhammad, lahir dari seorang perempuan mulia bernama Aminah. Tahun kelahiranmu penuh keajaiban. Ada berkah yang mengalir terus-menerus sejak kau lahir. Bahkan, rahmat selalu mengiringi pertumbuhanmu. Engkau suci sejak lahir.

Wahai, Lelaki yang jauh dari keburukan... (Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan, hal. 181)

Aku bahkan tak sanggup menyerap setiap keindahan bahasa yang ditujukan padamu. Kisahmu begitu puitis serta heroik. Tak heran ketika seseorang bernama Kashva mencarimu. Bukankah ada banyak pencari lain tentangmu selainnya. Dan kau tahu itu. Kau tahu bahwa kau akan dicari hingga hari akhir kelak. Meski kisahmu belum  dirangkai seindah menggambarkan sosok dan keagunganmu selayaknya kau diagungkan, setidaknya perpaduan kisah pencarian akan menjelaskan bahwa kau sangat pantas untuk itu.

Muhammad, hadirmu adalah pelengkap sekaligus penutup para nabi. Kedatanganmu telah dikabarkan para nabi sebelummu. Kitab suci yang turun sebelum kau lahirpun menyebutkan kedatanganmu.

Zarduhst, sang nabi Persia, meramalkan, jika seorang juru selamat dilahirkan, di langit malam akan bersinar bintang dengan kecemerlangan tak berbanding

Kashva kemudian melakukan korespondensi dengan berbagai orang dari wilayah lain. Salah satunya dengan El, pemuda biara. Dalam suratnya, mereka membicarakanmu. Bagaimana orang-orang memiliki kebiasaan akan datang berbondong-bondong ketika mengetahui bahwa juru selamat telah lahir.

Jauh sebelum Yesus, bangsa Persia dan Magian begitu mendambakan kedatangan seoang juru selamat. Mereka selalu berbondong-bondong  ke mana pun setiap mendengar kabar perihal kelahiran seorang juru selamat sembari membawa berbagai hadiah

Terkadang, aku merasa ada yang janggal dari kisah yang kerap diceritakan padaku di masa kecil. Bagaimana mungkin semesta mempertanyakan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Ku ingat kisah pertanyaan makhluk langit. Mereka kebingungan akan apa yang akan diciptakan oleh Tuhan. Kau sempurna, diciptakan dari kemuliaan dan penghambaan. Keseimbangan dirimu, pengejawantahan semesta ada padamu.

Meski banyak hal yang membuatku tidak sepakat pada isi buku ini, namun kita harus moderat menilainya. Jarak hidup yang jauh serta berulang kalinya kisahmu diceritakan membuat kita hanya mengutip riwayat. Namun bagiku tak masalah. Itulah eksistensimu yang hadir pada relung para pencari.

Hal yang menarik juga terjelaskan dalam alur cerita tentang perang. Bahwa setiap peperangan yang terjadi pada waktu engkau Muhammad memimpin bukanlah peperangan untuk melanggar hak kemanusiaan, melainkan sebuah perang untuk memuliakan manusia. Terkait dengan penyerangan Mekkah ketika Muhammad menetap di Madinah adalah sebuah perang menghancurkan berhala, patung, yang kaum Quraisy sebut sebagai Tuhan. Ia malah menjamin perlindungan setiap orang yang bersaksi atas nama Tuhan.

 Tak pernah habis cerita tentangmu Ya Rasul, bahkan ketika kisah dalam buku ini diakhiri, sebenarnya tak terbatas hikmah tentangmu yang bisa diwariskan peradaban. Salam alaika ya rasul.

Kamis, 05 Juni 2014

Cerita Calon Arang

BY Unknown IN , , No comments

Judul Buku : Cerita Calon Arang
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Jumlah Halaman : 96
Kategori : Fiksi
Format : Paperbacks
Dipubikasikan : Maret 2009
Penerbit : Lentera Dipantara
ISBN13 : 97997312105

***

Mengapa Perempuan? Saat pertama kali membaca buku ini, naluri keperempuanan saya terusik. Yang manakah naluri yang berjenis kelamin itu? Bukan naluri itu sendiri yang memiliki wujud fisik, tapi hal fisiologis padanya mampu mempengaruhi secara psikologi bagaimana jiwa seorang perempuan. Apa yang dipikirkannya akan tercermin dalam tindaknya.

Pram mampu menangkap bagaimana pemikiran seseorang sangat berpengaruh pada apa yang ia lakukan bagi umat manusia. Pram menyajikannya secara menarik dalam novel berjudul Cerita Calon Arang. Ia menyajikan cerita tentang perempuan dari sisi yang lain. Ini juga masih erat kaitannya mistisisme yang dianut oleh masyarakt Jawa.

Kisah ini bermula dari seorang janda sakti, Calon Arang, yang memiliki seorang anak perempuan. Janda ini menyembah dewi yang mampu memberikannya kekuatan magis. Dengan sasajian tertentu, hajat yang hendak disampaikan, serta merapal mantra menjadi gambaran umum aktifitas sang janda.

Suatu hari, sang janda mengetahui bahwa masyarakat di sekitarnya menggunjingkan anak perempuannya. Anak gadis Calon Arang sebenarnya berparas cantik. Namun karena takut pada Calon Arang, tak seorang pria pun berani datang melamarnya. 

Calon Arang memohon kepada dewi untuk memberikan kutukan kepada masyarakat. Permintaan Calon Arang terkabul. Datanglah wabah kematian menjangkiti masyarakat. Warga di sekitar tempat tinggalnya meninggal satu persatu.

Ketersinggungan lalu menjadi awal dari konflik berkepanjangan antara Calon Arang dengan masyarakat. Konflik yang ditampakkan oleh cerita ini, Pram menggambarkannya melalui kemarahan Calon Arang. Betapa kalutnya masyarakat menghadapi wabah. Mereka yang menggunjing secara langsung hingga mereka yang tak tahu apa-apa pun menjadi korban. Calon Arang murka, perlakuan tidak adil yang menimpa anaknya harus mendapatkan pembalasan setimpal. Calon Arang membalas bara di hatinya, tersulut oleh amarah.

*
Banyak pesan moral yang terekam di dalam novel ini. Awal mula mistisisme Jawa sebenarnya telah dituliskan oleh Pram dalam buku Arus Balik. Di sini, praktik-praktik mistis itu menjadi nyata. Bukan hanya Jawa, praktik mistisisme masyarakat Indonesia bahkan terjadi hampir di semua penjuru. Sumatra, Kalimantan, Jawa, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Papua.

Praktiknya pun ditujukan pada berbagai hal. Mulai dari yang baik, seperti teknik pengobatan, hingga praktik untuk mencelakakan orang lain. Tidak heran juga jika di era 2000-an, beberapa film Indonesia kerap menayangkan tema santet dan sejenisnya.

Menurut saya, tidak ada yang salah dengan pengetahuan mistikal pada masyarakat. Indonesia kental dengan kebudayaan yang lekat dengan alam. Hidup berdampingan hingga saling menjaga. Namun komunikasi yang tidak berjalan harmonis, menyinggung pihak lain tanpa peduli efek yang akan terjadi selanjutnya kerap menjadi hidangan sehari-hari.

Manusia dikuasai amarah, diliputi rasa benci, serta dengki.

*

Hal menarik lain dalam cerita ini terletak pada cara Pram mengakhiri cerita. Taktik yang digunakan untuk mengalahkan Calon Arang.

Selasa, 03 Juni 2014

Flowers for Algernon

BY Unknown IN , No comments

Judul : Flowers for Algernon, Charlie Si Jenius Dungu
Penulis : Daniel Keyes
Jumlah Halaman : 457
Tahun Terbit : 2006
Genre : Klasik Science Fiksi 
Edisi : Bahasa Indonesia
ISBN : 9793330023

***

Ini bacaan wajib bagi mahasiswa psikologi. Perkembangan ilmu psikologi terkadang membuat kita hanya bisa ber-ohh atau bahkan mengatakan 'masa?' serta bisa berkata 'kok bisa?'

Membaca Flowers for Algernon berhasil membuat saya berkerut juga lega. Saya jadi tahu bagaimana nasib mereka yang menderita disabilitas. Bagaimana perlakuan lingkungan sosial kepada mereka. Kehidupan sosial seperti memberikan sebuah penolakan atas landasan perbedaan. Namun di sisi lain saya menemukan bahwa kesadaran pada difabel sama dengan kesadaran bagi mereka yang mengaku normal.

Di beberapa hal, saya malah heran dengan bacaan ini. Di sini saya belajar banyak tentang etnografi penelitian psikologi sosial. Banyak hal dicatat dengan rinci. Alur penokohan ini membuat saya kemudian berpikir sejenak. Bagi pekerja sains, hal yang wajar menjadikan hewan sebagai makhluk percobaan. Sedangkan manusia, juga perihal wajar bagi mereka. Ini yang sulit dikompromikan menurut saya. Sebagai orang yang berlatar belakang ilmu sosial, memposisikan hewan dan manusia adalah dua hal berbeda. Menjadikan mereka sebagai bahan eksperimen itu menyakitkan. Menyakitkan bagi mereka secara mental. Menurunkan kepercayaan diri mereka bahwa mereka juga manusia.

Perkembangan wacana pengetahuan memang membuat kita tidak hanya menjadikan eksperimen sebagai salah satunya alat untuk mendapatkan pengetahuan. Kebenaran pengetahuan bukanlah sesuatu yang harus kita buktikan banyak di laboratorium. 


Ada banyak metode pembuktian sebenaran selain hal-hal yang sifatnya empirikal. Namun bagi manusia modern, hal materil adalah dewa yang mereka sembah.Manusia modern tergila-gila dengan benda-benda. Mereka melampiaskan keinginannya untuk memiliki, mengoleksi, mengumpulkan benda sebanyak mungkin. Mereka mengumpulkan pujian serta penghargaan di atas segalanya. bahkan ketika harus mengorbankan hal lain

Tapi pernahkah para ilmuan yang melakukan eksperimen memikirkan bahwa ada hal-hal di luar sesuatu ang sifatnya empirikal? apakah semua hal harus membuat kita melakukan percobaan? setelah melakukan percobaan, mereka memang memikirkan apa efek yang bisa terjadi. Lalu, apakah tindakan setelahnya? Apakah kemanusiaan berbicara tentang eksperimen laboratorium? Atau ada hal lain yang kita perlukan untuk memahaminya?


Menurut saya, Daniel Keyes ingin mengantarkan makna kepada kita bahwa ada nilai kemanusiaan yang kita lupa hari ini. Manusia modern terjebak pada definisi manusia sempurna yang dilihat dari sisi fisik saja. Manusia normal adalah manusia yang lengkap dengan seluruh anggota tubuh serta memiliki mentalitas yang baik. Mentalitas baik bagi manusia modern adalah mereka yang jauh dari keterbelakangan mental, mengoptimalkan fungsi otak secara seimbang. Secara sederhana, manusia adalah mereka yang tidak cacat.

Saya sedih menemukan fakta yang diungkaplan oleh Keyes. Kita selalu memberi cap diri sendiri bahwa kita adalah manusia normal. Charlie, tokoh dalam novel Keyes adalah contoh manusia yang tidak diterima masyarakat banyak dalam pergaulan sosial. Mengapa pergaulan kita melihat pada perbedaan?

Namun Daniel mengungkapkan lebih dari itu. Daniel ingin menegaskan bahwa aspek kehidupan manusia tidak hanya wilayah fisiologis atau sisi fisik saja. aspek psikologi adalah hal lain dalam diri manusia yang patut diperhatikan juga.

Disebabkan karena ketidaknormalan yang disadari Charlie pada dirinya, bahwa ia bodoh tidak sepintar dan senormal yang lainnya, maka ia memutuskan mengikuti penelitian yang bisa mengubahnya menjadi pintar. Charlie diharuskan menulis sebuah Diary tentang kemajuan yang ia alami.

Sejumlah test pun diberikan kepadanya. Tak hanya Charlie saja, penelitian itu juga diujikan kepada Algernon, seekor tikus. Dalam catatan harian yang dituliskan Charlie, ia sering menyebut-nyebut Algernon. Lambat laun, banyak hal-hal yang kemudian dirasakan Charlie. Ia sama sensitifnya seperti manusia lain yang disebut normal. Hingga perkembangan pesat Algernon, sang tikus, juga terjadi padanya.

Beberapa kali test, Algernon mampu memecahkan tingkat kesulitan dari test tersebut. Karena penelitian ini berkaitan dengan meningkatkan kapasitas otak, maka hal serupa juga meningkatkan kapasitas otak pada Charlie. Namun pemberian dosis-dosis tertentu berbeda bagi keduanya. Charlie berharap kemajuannya mampu mempengaruhi serta mengubah hidupnya.

*

Renungan kisah Charlie ini penting bagi mereka yang mendewakan IQ tinggi. Bisakah Charlie memilih sejak awal untuk dilahirkan dalam segala bentuk keterbatasan yang ada? Perbedaan yang lebih ditekankan oleh orang-orang ketimbang memperlakukan difabel selayaknya manusia masih terjadi. Ini terlihat dari ruang-ruang yang tidak banyak tersedia bagi mereka. Akses informasi jika tidak berdasar pada usaha pribadi, akan sulit untuk ditemukan.

Tahun ini saja, kita dibuat panas dengan sejumlah aturan yang menyatakan bahwa difabel dan yang terlahir tidak mendapat akses masuk perguruan tinggi. Untung saja pemerintah cepat mengubah hal itu. Beragam protes telah mencoreng wajah negara kita, disebut sebagai pelanggar HAM.

Senin, 02 Juni 2014

Gadis Pantai

BY Unknown IN , , No comments

Judul Buku : Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Jenis Buku : Roman Novel
Genre : Fiksi
Penerbit: Lentera Dipantera
Jumlah Halaman: 272
No ISBN : 979-97312-8-5

***

Pram selalu memukau dalam setiap tulisannya, termasuk kisah Gadis Pantai. Novel ini ditulisnya sebagai persembahan pada neneknya, seorang perempuan Jawa yang terpinggirkan oleh zaman. 

Seperti Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai masih menceritakan Indonesia masa lalu. Saat pemerintahan kolonial berkuasa. Budaya yang ditampilkan dalam buku ini diceritakan dengan jujur. Dikisahkan dari latar belakang seorang gadis yang sehari-harinya tinggal di pesisir pantai. Ia disebut Gadis Pantai.

Buku ini adalah kisah sejarah tentang apa yang menimpa tanah jawa lengkap dengan penderitaan masyarakat yang tidak menempati kasta apa pun. Mereka hanyalah nelayan biasa, biasa tak makan, biasa tak mendapatkan uang, biasa tak sekolah, dan banyak biasa lainnya pada mereka. 

Jika berbicara budaya, kita akan berbicara produk ciptaan manusia. Tingkah laku dalam kesehariannya, yang dilakukan oleh banyak orang disekitarnya, hingga menjadi ciri suatu kelompok masyarakat, itulah yang kita sebut budaya. Budaya tidak melulu berkaitan dengan lagu daerah, baju adat, rumah adat, senjata tradisional, atau gelar-gelar kebangsawanan. Namun budaya bermakna lebih luas. Sebagai ciptaan manusia, budaya menunjukkan bagaimana identitas serta watak masyarakat yang hidup kala itu.

Melalui perspektif budaya, Pram mencoba mengusik bagaimana manusia tetap memiliki relasi dengan budaya. Untuk melihat bagaimana posisi manusia dan bagaimana memberikan posisi pada dirinya. Hubungan manusia dan budaya begitu erat. Sulit untu dipisahkan. Di mana manusia hidup serta berkembang, saat itu pula mereka menciptakan peradabannya. Peradaban yang menjadi ciri kebiasaan, itulah budaya. Mulai dari pemikiran, nilai yang mereka anut, penghormatan kepada dewa, alam, serta manusia itu sendiri, itulah yang disebut budaya.

Pram sangat cerdas membingkai kritiknya dengan menampilkan simbol-simbol dalam budaya masyarakat Jawa. Seperti ketika Gadis Pantai dipaksa menjadi selir Bendoro, santri yang bekerja pada pemerintah Belanda. Pernikahan mereka hanyalah pemanasan bagi Bendoro sebelum menikahi perempuan yang sederajat dengannya. Saat hari pernikahannya tiba, Gadis Pantai dibawa dengan iring-iringan. Ramai. Lengkap dengan bedak tebal menutupi polos wajahnya.

Gadis Pantai menangis dalam perjalanan. Tangisannya menyimpan ketakutan, kehilangan, hingga pengharapan. Banyak hal yang menjadi teka-teki dalam hidupnya. Usianya masihlah 14 tahun ketika menikahi Bendoro. Hari-harinya yang diisi debur ombak langsung berganti dengan suasana gedung besar, sepi dan status sebagai istri pembesar. Namun bagaimana pun status yang ia sandangnya, ia tetaplah seorang gadis miskin yang datang dari pesisir. Terlebih, mereka tak memiliki derajat apa pun dalam masyarakat elite.

Perbedaan derajat juga ditonjolkan dalam tingkah laku Gadis Pantai bersikap pada si Bendoro, suaminya. Suaminya digambarkan sebagai seorang alim, beberapa kali tamat Quran, serta telah dua kali naik haji. Ketika berada dalam satu ruangan dengannya, maka untuk keluar dari ruangan itu, seseorang harus berjalan dengan berjongkok tanpa membalik badan.

Ada yang mengganggu pikiran saya. Bukan tentang apa yang dipikirkan Pram. Namun realita yang ia suguhkan dalam kisah ini. Bagaimana mungkin seorang beragama memperlakukan orang lain sedemikian kejamnya? Bendoro memang tidak digambarkan sebagai pria yang senang main tangan. Namun peliknya hubungan suami-istri lebih terasa ketika banyak hal tak dibagi pada Gadis Pantai. Ia dibiarkan hidup dalam tanda tamya besar. Hingga suatu hari, setelah dua tahun pernikahan mereka, Gadis Pantai menanyakan kabar burung kedekatan suaminya dengan perempuan yang dipilihkan keluarga mereka.

Pantaslah buku yang disebut Pram terdiri dari tiga jilid ini dihilangkan. Jilid kedua dan ketiga, entah di mana rimbanya. Hanya jilid pertama yang sampai ke tangan pembaca hari ini. Kisah Gadis Pantai memang menyinggung banyak pihak. Mereka yang mendahulukan ego individu di atas kemanusiaan, adalah pihak yang harusnya paling mereka. Mereka yang memiliki jabatan, status sosial, merasa hidup di atas awan. Kemiskinan yang dituturkan begitu. Namun mereka yang tetap ingin berkuasa, akan memberangus setiap penentang yang pernah ada.

Cerita buku ini lalu mengalir membedah kemanusiaan yang terenggut. Gadis Pantai. Kisah seorang perempuan yang berasal dari keluarga miskin pesisir yang dipingit oleh bangsawan. Menjadi satu hal membanggakan bagi orang yang biasa-biasa saja kemudian dilirik oleh dia yang punya posisi. Terkuaklah tabir-tabir penindasan kemanusiaan. Bagaimana mereka sesama bangsanya, menindas bangsanya sendiri.

Meski Gadis Pantai bersuamikan 'orang bersar', tinggal di gedung, memiliki pembantu, orang-orang kota tetaplah melihat ia sebagai orang kampung. Label orang kampung bermakna kotor, bodoh, dan kurang beriman. Makna inilah yang seakan dikonstruk kembali oleh Pram untuk memaksa masyarakat modern membuka mata. Benarkah mereka yang dari kampung demikian? Atau justru cap tertentu diberikan kepada mereka atas kepentingan pihak lain. Kepentingan pihak yang ingin langgeng memelihara budak.Hingga kini, masyarakat modern kita tetap saja mengadopsi pemikiran ini. Kolonialis berhasil menanamkan pemikiran itu.

Pram selalu mampu menguak kejahatan sosial budaya pada zaman di mana ia hidup. Kritiknya memang lintas zaman. Di pulau Buru menjadi tempat ia menghasilkan banyak tulisan untuk diselundupkan ke luar negeri. Pram dengan lincahnya mampu meramu sejarah menjadi literatur sastra. Penindasan oleh penjajahan Belanda memang terasa di negeri kita, tapi penindasan oleh bangsa sendiri tak pernah dibenarkan oleh kemanusiaan. Hingga kini, kritik itu masih terasa. Hingga kini, persoalan kemanusiaan masih saja ada. Hingga kini, bangsa sendiri yang menindas rakyatnya.

Lalu apa bedanya kita merdeka dari Belanda namun tetap mengadopsi watak mereka?

***

Jika protes tak lagi di dengar, sastra harus bicara!

Selasa, 13 Mei 2014

Demi God

BY Unknown IN , , No comments

Judul : Demi God
Penulis : Bahar Azwar
Format : Paperback 
Jumlah Halaman : 256
Tahun Terbit :  May 2005
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 979360073X

***

Saya lupa kapan tepatnya saya membaca buku ini. Seingat saya, buku ini saya dapatkan di tumpukan buku-buku discount di sebuah toko buku di Makassar. Awalnya, saya menganggap bahwa buku ini seperti buku fantasi sejarah yang lebih banyak berisi mitos.. Melihat sampul buku, saya siap untuk diajak bertualang ke masa silam. Gambaran di kepala saya, peperangan, perkelahian, pemberontakan akan mengiasi isi buku. Saat pertama kali membukanya, saya salah.  

Sampul belakang buku menyatakan seperti ini:
 
AHLI bedah adalah demigod. Titisan dewata ini diutus Penguasa Semesta Alam turun ke dunia sebagai penyebab kesembuhan. Bersenjatakan sebuah pisau penyembuh, Ropanasuri, ia malang melintang di arena berdarah melawan penyakit, dalam drama yang sudah dimainkan sejak dunia terkembang. Tragedi kadang tak terhindarkan tatkala kuasa terasa mutlak, tawaduk menjadi ria, rasio tercemar dengan rasa serta iringan nyanyian syaitan menyerukan Engkaulah Tuhan. Di saat itu pula ksatria tergelincir menjadi paria

Halaman demi halaman dari buku ini memang berisi peperangan, perkelahian, hingga pemberontakan. Namun ini sesuatu yang menjadi konflik para tokoh. Bukan perkelahian sesuangguhnya di atas tanah. Sesuatu yang lebih sulit, merasuk pada pemikiran mereka. Ini adalah sebuah bacaan bergenre science fiction. Dikemas dengan latar belakang dunia medis lengkap dengan seluk-beluk rumah sakit, profesi kedokteran, hingga kepanikan di ruang operasi. Menulisnya membutuhan riset yang bisa mengakses beberapa informasi rahasia tertentu.

Kehebatan sosok doktek bedah yang sering saya nonton di layar kaca menjadi kisah menegangkan di buku ini. Kita disuguhi pandangan lain tentang profesi dokter. Jika kalian pernah menonton film Good Doctor dari Korea Selatan, informasi ruang bedah juga dibahas dalam buku ini. Namun film tersebut dan buku ini berkisah dalam sudut pandang yang berbeda.

Seperti yang disampaikan oleh uraian singkat buku ini, Demigod diutus kedunia untuk membawa kesembuhan. Meski sebenarnya, bukan Demigod atau ahli bedah itu sendiri yang menyebabkan kesembuhan. Ada yang lebih pantas menyembuhkan yang memberikannya kepada Demigod.

Fiksi ini menawarkan angin segar bagi mereka yang ingin berpikir. Bab demi bab memang membawa kita bertualang hingga banyak rumah sakit di Indonesia. Ternyata, setiap rumah sakit di setiap daerah memiliki keterkaitan.

Meski kisah fiksi, nampak nyata penulisnya melakukan riset mendalam. Sisi psikologis seorang dokter yang melakukan malpraktik juga ditampakkan di sini. Sesungguhnya, malpraktik menjadi pesan lain yang tak nampak di sini. Kita sebagai pasien, hanya tahu bagaimana profesi dokter melakukan tindakan medis tanpa pernah berkompromi dengan pasiennya terlebih dahulu. Novel ini juga menguraikan bagaimana sesama profesi dokter akan saling melindungi dalam dunia keprofesian hingga ranah hukum ketika ada yang melakukan kesalahan di dalam ruang operasi.

Petualangan ini seperti nyata dan memiliki sejarah masa lalu. Ada mitos yang berkembang bagi profesi ini di dunia nyata, ahli bedah. Melalui buku ini, penulis seperti ingin menyampaikan bahwa terkadang kita terlalu berharap pada orang yang sebenarnya sama terbatasnya dengan kita. Mengingatkan agar tidak lupa sebagai orang yang dititipi pengetahuan. Bukan yang mengendalikan pengetahuan itu.

Lalu, masihkah anda menganggap bahwa ahli bedah adalah dewa?
 
selamat membaca.
selamat bertemu di ruang operasi

Minggu, 04 Mei 2014

Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik

BY Unknown IN , , , No comments

Judul Buku : Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik
Penulis : Saya Sasaki Shiraishi
Format :Paperback 
Jumlah Halaman : 11
Publikasi : January 2014
Penerbit :Komodo Books
ISBN : 9786029137
Edisi : Bahasa Indonesia
 
***
 
Jika orang tua kita hidup di masa pemerintahan orde baru, masa pemerintahan Soeharto sebagai presiden ke-2 Indonesia, dan membandingkannya dengan masa pemerintahan presiden-presiden setelahnya, maka sebagian dari mereka akan mengatakan bahwa era Soeharto lebih enak. Entah apa yang menjadi indikator mengapa mereka mengatakan enak.

Saya Sasaki Shiraishi memberikan penyajian fakta etnografis yang berbeda. Shiraishi membuka pendahuluan buku ini dengan menghubungkan konsep keluarga di Indonesia dengan pemerintahan Soeharto. Persepsi mantan penguasa 32 tahun di Indonesia itu tentang para pengawal, menteri, ajudan, atau pembantu-pembantu dekatnya disebut 'anak' oleh Soeharto. Dan sebaliknya, Soeharto akan disebut 'bapak' (Supreme Father) oleh 'anak-anaknya'.

Konsep keluarga yang dijelaskan oleh Shiraishi dalam buku ini adalah keluarga dalam arti hierarki. Dengan menganggap diri sebagai bapak, Soeharto menciptakan makna sebagai orang yang berkuasa atas anak-anaknya dan wajib untuk dipatuhi. Apa pun yang dikatakan oleh Soeharto, wajib untuk diikuti. 'Anak-anak' Soeharto kemudian dididik menggunakan prinsip kepemimpinan ABRI yang sekarang disebut TNI, yaitu Tut Wuri Handayani.

Tut Wuri Handayani yang diadopsi dari Ki Hajar Dewantara coba untuk ditafsirkan lain oleh Soeharto. Arti semboyan ini sebenarnya mengarah pada kebebasan setiap orang untuk mengembangkan diri namun ditafsirkan lain oleh Soeharto demi mewujudkan 'penertiban melalui penguasaan dan paksaan'. Beberapa prinsip pokok ajaran Ki Hajar Dewantara diperkenalkan oleh Soeharto untuk melembagakannya dalam sistem pendidikan 'benar' untuk diterapkan.

Dari kata 'keluarga' yang terdiri dari orang tua, kakek-nenek, kakak, adik, serta keluarga hingga kenalan menegaskan makna relasi kuasa. Bapak sebagai kepala keluarga disebut sebagai orang yang memiliki kuasa lebih besar. Konsep kuasa yang dilekatkan pada bapak dalam keluarga di Indonesia mengacu pada konsep bapak orde baru yang diinginkan Soeharto.

Hubungan dalam keluarga kemudian ditafsirkan sebagai relasi yang harus dipatuhi, ditaati, diikuti, sebagaimana model kepemimpinan ABRI atau TNI. Ini sangat jelas mengapa digunakan, untuk mewujudkan sesuatu yang tertib, dibutuhkan suatu paksaan.

Begitu pula di sekolah. Mengapa kita harus taat dan patuh pada Ibu/Bapak Guru di sekolah, yah...karena mengadopsi sistem ini. Jika kita mau merenung sejenak, yang harus dipikirkan, mengapa dalam konsep pendidikan kita patuh dan taat? Sebenarnya kepatuhan dan ketaatan kita untuk siapa?

Untuk apa para guru di sekolah membutuhkan kepatuhan kita? Kita harus mendefinisikan arti sekolah yang sesungguhnya. Jika sekolah hadir untuk mencetak manusia seragam, maka sistem komando itu dibutuhkan. Namun jika sekolah hadir untuk melahirkan manusia yang cerdas maka sistem komando tidak tepat digunakan.

Namun, inilah yang hadir hari ini di Indonesia. Empat generasi presiden yang memimpin Indonesia tak ubahnya Soeharto dalam hal pendidikan. Konsep Bapak/Ibu masih juga digunakan dalam arti perintah. Sekolah seperti sebuah cetakan besar untuk menghasilkan manusia pesuruh. Haruskah kita berhenti atau menarik diri dari sekolah?

Jika 'anak' melawan 'bapak', Shiraishi tak lupa pula menjelaskan bagaimana mahasiswa pada zaman itu diculik, disekap, dibunuh, hingga dimutilasi oleh rezim pemerintahan Soeharto karena mereka angkat bicara

Bahasa nasional membuat kaum muda menjadi bisu. Mereka digambarkan menjadi generasi bungkam yang tak tahu mengungkap pengekangan pada mereka. Bahasa nasional disebut tidak memilikinakar hanya karena sebagai bahasa perantara saja.

Soeharto memang dikenal memerintah dengan tangan dingin. Suara dibungkam, pelarangan karya Pramoedya Ananta Toer salah satunya menjadi contoh karya yang dilarang beredar oleh 'bapak'.

Mungkin, orangtua kita tidak sadar atas praktek sistemik yang diwariskan oleh rezim orde baru. Yang mereka tahu, hidup mereka sejahtera padahal tersiksa.

"Coba kecam raja-rajamu, belum habis kata-katamu berakhir menggeletat kau sudah akan roboh terkena mata pedang..."
(Pramoedya Ananta Toer

Jumat, 02 Mei 2014

Galaksi Kinanthi

BY Unknown IN , , No comments

Judul : Galaksi Kinanthi: Sekali Mencintai Sudah itu Mati?
Penulis : Tasaro GK
Format : Paperback 
Halaman : 432 pages
Tahun terbit : Januari 2009
Penerbit : Salamadani
ISBN : 9789791803595
Edisi : Bahasa Indonesia
Penghargaan : Anugerah Pena for Fiksi Terpuji (2009)
*** 

Saya sempat hapal mantra paling wajib dalam untaian kalimat yang berhasil membuat banyak pembaca bergetar.
Begini cara kerja sesuatu yang kau sebut cinta. Engkau bertemu seseorang, lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh, dan terbelah ketika dia menjauh
Tasaro GK memang pandai meramu kata. Kekuatan riset yang mendukung juga menjadi nyawa dari karya ini. Tema tulisannya tak jauh dari perempuan. Lebih tepatnya menyorot kisah tenaga kerja perempuan yang bekerja di luar negeri. Beberapa di antara mereka mendapatkan hidup layak. Beberapa di antara mereka pula harus merasakan pahirnya hidup di negeri orang.

Sesuai judulnya, nama tokoh utama dalam novel ini adalah Kinanthi. Seorang perempuan yang dibesarkan di desa. Ketika menginjak remaja, orang tuanya menukar Kinanthi dengan beras. Ajuj, sahabatnya, harus merelakan bagaimana Kinanthi pergi dari hidupnya. Kinanthi, gadis kecil yang tumbuh deiring tempaan waktu tetap menyimpan rasa rindu pada Ajuj, sekaligus benci.

Awalnya saya lupa, bagaimana perempuan dituliskan dalam kisah ini. Kepiawaian Tasaro membuat saya terlena bahwa kisah Kinanthi sesungguhnya tidak dituliskan dalam sudut pandang seorang perempuan. Ia dituliskan dalam sudut pandang lelaki. Benarkah lelaki memandang perempuan lebih banyak sebagai objek eksploitasi?

Tidak untuk menuntut sebenarnya, namun menurut saya ada cara pandang melihat perempuan yang sulit ditafsirkan. Begitu saja, mengalir. Padahal, banyak muatan psikologi di novel ini yang bagus untuk diapresiasi kembali.

Realita perempuan yang digambarkan adalah fakta yang terjadi di belahan bumi manapun. Diskriminasi hingga perdagangan manusia adalah tema yang mewarnai sebagian besar isi buku..

Melalui gambaran kisah Kinanthi dan Ajuj, kita diajak bertualang melihat budaya timur dan barat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, khususnya masyarakt desa. Bagaimana kehidupan sosial mengubah banyak orang. Tentang peristiwa masa lalu dan yang digeluti kini oleh manusia modern tak pernah lepas dari masa lalunya. Sebenarnya, saya menyimpan sebuah ketakutan ketika membaca buku ini di awal. Semoga akhir buku ini tidak menyimpulkan bahwa seorang perempuan yang baik adalah mereka yang sukses dalam karir.

Bercermin pada perjalanan Kinanthi, hidup memberikannya makna dengan cara yang harus dilaluinya. Hidup Kinanthi tak mulus. Ia harus merasakan bagaimana dikirim menjadi seorang tenaga kerja ilegal ke Saudi Arabia. Di saat yang sama, Tasaro mempertontonkan dengan gamblang bagaimana Saudi seharusnya tidak menjadi tujuan kita mengirimkan tenaga kerja. Beberapa di antara mereka diperlakukan selayaknya binatang. Mungkinkah kemanusiaan dilelang di tanah suci kelahiran Baginda Nabi?

Kritik pada banyak kalangan begitu mengena dari narasi milik Tasaro. Kritik paling tajam diarahkan pada pemerintah yang harus mengeluarkan regulasi tentang keamanan TKI khususnya perempuan. Berada jauh dari rumah membuat semua kemungkinan buruk bisa terjadi. Pemerintah punya PR besar ketika sejumlah kasus tentang pekerja migran bergaung di media.

Tahun 2014 saja bahkan telah dibuka dengan kisah Satinah, tenaga kerja yang terancam dihukum mati. Mesti kasusnya telah lama bergulir, barulah pada detik-detik terakhir tenggat pembayaran denda baginya mencuat di media nasional kita. Ini emperlihatkan bagaimana pemerintah tidak serius menanggapi isu ini. Selain itu, kita memang lemah pada sisi payung hukum. Cerita ini menurut penulisnya bukan rekaan semata. Ini diangkat dari kisah nyata.

Senin, 21 April 2014

Gelap Terang Hidup Kartini

BY Unknown IN , , , 2 comments

Judul Buku : Gelap Terang Hidup Kartini
Penulis : Tim Buku Tempo
Cover : Paperback1
Halaman : 48 hal
Published June 2013
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN :  139789799105912
Edisi : Bahasa Indonesia

***

Buku ini awalnya diterbitkan dalam bentuk edisi khusus majalah Tempo edisi 22 - 28 April 2013. Mengambil judul yang sama, Gelap Terang Hidup Kartini mengulas bagaimana kita harus bersikap adil pada sejarah. Opini dengan judul yang sama pun memberikan arahan kepada kita sebagai pembaca agar tidak mengapresiasi sejarah secara berlebihan.

Dalam kutipan bahwa Kartini mati muda, gagasannya mencerahkan dan mengilhami, meninggalkan ratusan surat, hingga menelusuri hidupnya sampai Deen Hag, Belanda, membuat saya berkerut kening.

Diperhadapkan pada sebuah fakta sejarah, Kartini adalah pejuang emansipasi bagi perempuan. Suaranya di dengar. Hari kelahirannya diperingati secara besar-besaran. Media mengenakan kebaya, sebagai lambang pakaian adat yang dikenakan kartini. Menyisir rambut mereka dengan sanggul.

Lahir di keluarga bangsawan, ayahnya seorang Bupati Jepara. Di usia muda, menikah dengan seorang duda, Bupati Rembang. Kebimbangan menerpa hidup perempuan muda ini. Ia diperhadapkan pada kebimbangan memilih untuk mengembangkan dirinya, atau belajar.

Menilai sisi hidup Kartini, bukankah kita tidak bisa menerjemahkannya lurus-lurus saja? Melalui surat-suratnya yang diterbitkan, sejumlah tanya memang hadir darinya tentang konsep budaya yang menindas kesempatan setiap orang untuk belajar. Itu baik. Namun, mengapa harus belajar pada Belanda, di Eropa? Kartini bahkan dijanjikan untuk bersekolah di sana. Meski hingga hayat, itu tak kesampaian.

Era kolonialisme menjadi tahun yang memberikan pelajaran banyak bagi penindasan manusia. Penjajah datang dengan menjarah. Memasang wajah baik, menerapkan politik etis sebagai bentuk balas budi, namun itu tidaklah cukup. Pendidikan yang diberikannya tidak merata. Mereka malah kaget ketika banyak anak muda di jajahan Hindia Belanda yang berteriak lantang. Kesadaran mereka bangkit. Mereka menyadari bahwa apa yang dilakukan pemerintahan kolonial masa lalu adalah penindasan.

Mengapa harus Kartini? Sebagai bentuk balas budi, pihak kolonial mengiming-imingi banyak pelajar untuk sekolah di negeri Belanda. Untuk apa? agar mereka tidak menjadi senjata dalam selimut yang menikam dari dalam.

Sejarah Indonesia yang kokoh dengan bentuk kerajaan di masa lalu, hidup bergelimang perang. Mereka habis-habisan bertempur melawan Penjajah Belanda. Setiap perempuan dari berbagai kerajaan di nusantara, terlahir dengan takdir untuk melawan penjajahan bagi rakyatnya.

Namun feodalisme jawa yang kental di masa lalu memberi angin segar pihak penjajah. Kartini dimanfaatkan. Perempuan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Dewi Sartika, Emmy Saelan, dan lainnya tidak mendapat porsi penghormatan seperti Kartini. Mengapa? Karena mereka adalah mengangkat senjata.

Memang sempat terjadi perdebatan ketika hari lahir Kartini harus diperingati termasuk pengangkatannya menjadi pahlawan. Sejarah itu harus objektif, mengajarkan kita bahwa masa lalu adalah waktu terbaik untuk belajar kearifan
.

Pada beberapa bagian di buku ini, saya sepakat. Bahkan ketika disebut Kartini memberontak terhadap feodalisme, poligami, dan adat-istiadat yang mengungkung perempuan, secara logis saya masih sepakat. Sistem feodal masa lalu yang hadir khusus untuk menindas perempuan mengingatkan kita pada kisah Minke dan Nyai Ontosoroh dalam karya Bumi Manusia milik Pram.

Namun saat Kartini baru bermimpi, saat Kartini baru menuliskan surat-surat yang sebagiannya isinya tak ditampilkan, pejuang perempuan dari daerah lain di Indonesia tidak digubris sebesar perhatian pada Kartini.

Jumat, 21 Februari 2014

Perempuan

BY Unknown IN , No comments

Judul Buku   : Perempuan
Penulis         : Quraish Shihab
Penerbit       : Lentera Hati
Tahun Terbit : 2009

Buku ini dibuka dengan kalimat pada sekapur sirih yang berbunyi "Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi lelaki, demikian pula sebaliknya. Ciptaan Allah itu pastilah yang paling baik dan sesuai buat masing-masing".

Penggalan ini menjadi ulasan pembuka yang berangkat dari hakikat penciptaan perempuan. Dalam penciptaan, perempuan dan lelaki tak ada bedanya. Ditegaskan lagi pada kalimat selanjutnya bahwa "Tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak sempurna dalam potensinya saat mengemban tugas serta fungsi yang diharapkan dr ciptaan itu". Betapa sempurnanya ciptaanNya sehingga ditetapkanlah takaran dimana keduanya saling melengkapi.

Mengapa perempuan yang menjadi tema sentral buku ini?

Pada bagian awal dijelaskan bahwa penulis menaruh hormat, memuliakan, mengagumi perempuan. Tidak hanya ia sebagai anak yang memiliki ibu, memiliki istri, serta memiliki anak perempuan. Tetapi ada alasan yang lebih dari itu.

Seperti yang disebutkan buku ini bahwa semua lelaki, termasuk nabi suci sekali pun, harus mengakui bahwa dia membutuhkan perempuan untuk menyalurkan cinta yang terdapat dalam jiwanya sehingga jika seorang lelaki tidak menemukan perempuan yang dia cintai, dia akan mencintai perempuan yang ia temukan. 

Jadi betapa pentingnya perempuan dalam kehidupan hingga selama ratusan kita mempelajari perempuan, kita tetap saja belum mengetahui siapa dia dan apa sebenarnya yang dia inginkan.

Buku ini begitu kaya wacana, kaya tokoh, membedah pemikiran, hingga mampu membuat kita terperangah.

Satu lagi kutipan pada awal buku "Mencintai seorang perempuan mencukupi seorang lelaki, tetapi untuk memahaminya seribu lelaki pun belum cukup."

Alasan pentingnya buku ini hadir untuk menjelaskan pada kita bahwa perempuan adalah makhluk Tuhan yang penciptaannya sempurna, berasal dari jiwa yang sama dari penciptaan laki-laki. Betapa sempurnaNya Tuhan hingga makhluk yg diciptakanNya terejawantahkan manifestasinya. Maka sangatlah penting untuk mengenal perempuan. Terlebih lagi lahirnya beberapa pandangan yang sebenarnya lahir karena tidak benar-benar mengenal perempuan yang berasal dari Pencipta semesta, maka lahirlah bias pandangan tentang perempuan. 

Buku ini seakan menegaskan bahwa perempuan memiliki kemuliaannya tidak seperti pandangan lama yang menegaskan penindasan atas perempuan. Cara pandang melihat perempuan pun coba untuk dibenahi disini. Pandangan masa lalu seperti apa yang dijelaskan oleh Socrates, Plato, Aristoteles hingga pemikir kontemporer 

Selasa, 11 Februari 2014

Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

BY Unknown IN , , No comments

Cover Buku




 
Judul : Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis : Dewi 'Dee' Lestari
Publikasi : Published March 2012
Peerbit : PT Bentang Pustaka
Jenis Cover : Paperback
Halaman : 322 pages.








--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tuhan bercerita. Tuhan bercerita lewat ciptaanNya. Tuhan bercerita dengan menggambarkan kehidupan ciptaanNya. Ia mampu membuat sebuah cerita kehidupan yang di dalamnya mampu membuat cerita lagi. Akan ada tuhan kecil lagi untuk sesuatu yang lebih kecil. Sesuatu yang akan lebih berkuasa atas hal-hal yang lebih kecil dari dirinya.

Ada kehidupan nyata yang seperti terjadi di dalam cerita dan ada cerita memiliki dirinya di kehidupan nyata. Novel ini berhasil menggabungkan dua sisi tersebut.

Dikisahkan sepasang pasangan homoseksual berikrar akan identitas diri mereka masing-masing yang diakibatkan oleh badai serotonin yang menyelimuti mereka. Dhimas dan Ruben. Dhimas seorang mahasiswa English literature dan Ruben mahasiswa Medical School  mengikat janji badai serotonin mereka yang tiga bulan dua puluh satu hari berikutnya menjadi badai endorphin, badai cinta. Mereka membuat sebuah maha karya setelah sepuluh tahun hubungan mereka. Sebuah masterpiece yang membantu menjembatani semua percabangan sains.

Karya mereka berdua kemudian dikemas dalam bentuk cerita. Roman sains yang romantis, sekaligus puitis. Kisah ini dikemas menjadi kisah cinta yang tidak biasa-biasa saja, kontroversial, bahkan ada pertentangan nilai moral dan sosialnya. Lalu, mereka menciptakan kehidupan ceritanya dengan mengangkat sebuah cerita dari satu cerita, dongeng.

Tokoh utama. Sesosok pria homoseksual dan ternyata ia menyukai wanita juga, heteroseksual. Hingga lahirlah sosok ksatria, sang puteri dan si bintang jatuh.
Bumbu kehidupan pun bermain. Aktor yang nyata pun tampak. Ada Ferre dan Rana. Dua orang yang mencintai dengan sepenuh hati dan dipertemukan tidak dalam sebuah kesengajaan. Ferre mencintai Rana yang telah menikah. Seperti menyibak kondisi sosial yang ada di masyarakat kebanyakan. Ferre tak peduli lagi cintanya tepat atau tidak, tak peduli lagi ia tampak atau tidak, atau bahkan hanya bahagia dengan dirinya atau hanya dengan sel otaknya.

Beragam pandangan berbeda pun berani di kemukakan di novel ini. Digambarkan sang ksatria    -Ferre- merasa bahwa cinta itu tidak membebaskan, membelenggu, bahkan menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan. Alangkah tak optimis hidupnya. Kisah ini berusaha menggambarkan bagaimana fenomena di lingkungan kehidupan tak dimaknai. Cinta sebagaimana cinta tak pernah memiliki batasan lain kecuali cinta itu sendiri. Secara hakikat, ia tidak terbatas. Ada rasa yang dianugrahkan dan bahkan tak pernah mengenal untuk siapa dan apa saja. Tetapi batasan kemudian muncul untuk esensinya. Ranah praksis cinta itu sendiri. Karena sesuatu yang telah ada di alam ini kemudian yang mengenal konsep batasan. Ketika ia katakan bahwa cinta itu tidak membebaskan, di ranah mana cinta itu tidak membuatnya bebas untuk mencintai. Buktinya ia malah jatuh cinta kepada orang yang tak pernah ia duga. Bukan batasan kepada siapa, tidak. Tidak seperti kuantitas tapi pada kualitas cinta itu. Tergambar dari ungkapannya yang tak peduli lagi ia tampak atau tidak, cintanya akan tetap ada. Itulah sesuatu yang tak terbatas itu. Rasa cintanya yang tak lagi dibatasi oleh wujud materinya karena wujud materi bukan penghalangnya, tetapi sesuatu yang menjadi turunan non materi cinta. Dan mereka sepakat bahwa cinta, tidak butuh tali. Ia membebaskan dan buat apa melawan arusnya dan saling menjajah.

Untuk sosok bintang jatuh yang mereka ciptakan dari cerita yang ada cerita di dalamnya ini, evolusi emosional besar. Karena kisah ini merupakan dongeng yang diangkat tetapi tak sepenuhnya sama. Sesuatu lain dari kebanyakan ditawarkan. Ketika dikisahkan di dalam dongeng bahwa bintang jatuhlah kemudian yang akan mendapatkan sang puteri, mereka menolak. Seolah-olah cerita ini akan sangat mudah untuk di tebak. Mereka lalu ingin meninggalkan konsep itu. Sesuatu yang mampu melahirkan balas dendam dari konsep rebut merebut. Maka, bintang jatuhnya adalah seorang wanita. Refleks emosi yang bergulir kearah kedewasaan sejati, dan bukan balas dendam. Nyaris altruistik. Sesuatu yang dikira nyata padahal hanya ada satu dari lapisan multidimensi yang tak terhingga. Seperti kata Abraham Maslow bahwa ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya, ia dimungkinkan mengejar pencarian lebih tinggi yaitu aktualisasi diri. Pengetahuan akan dirinya sendiri di level paling dalam. Dan dialah bintang jatuh sesungguhnya. Tidak untuk sang puteri, ia untuk sang ksatria.

Alur kisah cinta mereka berbahan semesta dan berbumbu epistemologi. Sebuah konsep eksistensi cinta yang tak terbatas. Adak arena sesuatu yang besar juga ada. Tak terikat oleh waktu dan bahkan ruang. Rana –Sang Puteri- tak pernah mengalah atas beragam pilihan yang ada di alam ini. Ia hanya menyerahkannya kepada kemutlakan. Karena sebenarnya, ia mutlak harus memilih suaminya bukan kesatria. Dan hadirnya sosok supernova pada kehidupan maya ternyata memonitoring kisah mereka. Ialah sesosok perempuan berkulit pakaian glamor tetapi berotak filsafat. Lebih hebat dari politisi mana pun.

Kehidupan manusia di alam ini hanya mengenal konsep batasan, waktu. Konsep ini hanya ada dalam pikiran manusia, bukan fisik. Sel sendiri tak mengenal waktu. Ia hanya memperbarui diri, terus menerus, tanpa ada sangkut-pautnya dengan hitungan sekon. Manusia sendiri yang menciptakan linealitas waktu dan setuju untuk mengikutinya. Konsep ini lahir dari keinginan fundamentalnya untuk punya kendali atas hidup, termasuk mengendalikan diri sendiri. Masa depan, masa lalu, dan masa sekarang hanya ada satu gerakan tunggal yaitu kekekalan.

Dan mereka semua, hanyalah sebuah konsep. Konsep yang lahir dari pemikiran pasangan homoseksual yang keeksistensiannya hanya dalam ukiran lembar buku. Hanya ada di ruang kerja tanpa pernah beranjak ke mana pun. Dan mereka juga di lahirkan dari konsep rahim seorang penulis berepiste tinggi dengan segala turbulensi kehidupan kekal di dalamnya.