Senin, 02 Juni 2014

Gadis Pantai

BY Unknown IN , , No comments

Judul Buku : Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Jenis Buku : Roman Novel
Genre : Fiksi
Penerbit: Lentera Dipantera
Jumlah Halaman: 272
No ISBN : 979-97312-8-5

***

Pram selalu memukau dalam setiap tulisannya, termasuk kisah Gadis Pantai. Novel ini ditulisnya sebagai persembahan pada neneknya, seorang perempuan Jawa yang terpinggirkan oleh zaman. 

Seperti Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai masih menceritakan Indonesia masa lalu. Saat pemerintahan kolonial berkuasa. Budaya yang ditampilkan dalam buku ini diceritakan dengan jujur. Dikisahkan dari latar belakang seorang gadis yang sehari-harinya tinggal di pesisir pantai. Ia disebut Gadis Pantai.

Buku ini adalah kisah sejarah tentang apa yang menimpa tanah jawa lengkap dengan penderitaan masyarakat yang tidak menempati kasta apa pun. Mereka hanyalah nelayan biasa, biasa tak makan, biasa tak mendapatkan uang, biasa tak sekolah, dan banyak biasa lainnya pada mereka. 

Jika berbicara budaya, kita akan berbicara produk ciptaan manusia. Tingkah laku dalam kesehariannya, yang dilakukan oleh banyak orang disekitarnya, hingga menjadi ciri suatu kelompok masyarakat, itulah yang kita sebut budaya. Budaya tidak melulu berkaitan dengan lagu daerah, baju adat, rumah adat, senjata tradisional, atau gelar-gelar kebangsawanan. Namun budaya bermakna lebih luas. Sebagai ciptaan manusia, budaya menunjukkan bagaimana identitas serta watak masyarakat yang hidup kala itu.

Melalui perspektif budaya, Pram mencoba mengusik bagaimana manusia tetap memiliki relasi dengan budaya. Untuk melihat bagaimana posisi manusia dan bagaimana memberikan posisi pada dirinya. Hubungan manusia dan budaya begitu erat. Sulit untu dipisahkan. Di mana manusia hidup serta berkembang, saat itu pula mereka menciptakan peradabannya. Peradaban yang menjadi ciri kebiasaan, itulah budaya. Mulai dari pemikiran, nilai yang mereka anut, penghormatan kepada dewa, alam, serta manusia itu sendiri, itulah yang disebut budaya.

Pram sangat cerdas membingkai kritiknya dengan menampilkan simbol-simbol dalam budaya masyarakat Jawa. Seperti ketika Gadis Pantai dipaksa menjadi selir Bendoro, santri yang bekerja pada pemerintah Belanda. Pernikahan mereka hanyalah pemanasan bagi Bendoro sebelum menikahi perempuan yang sederajat dengannya. Saat hari pernikahannya tiba, Gadis Pantai dibawa dengan iring-iringan. Ramai. Lengkap dengan bedak tebal menutupi polos wajahnya.

Gadis Pantai menangis dalam perjalanan. Tangisannya menyimpan ketakutan, kehilangan, hingga pengharapan. Banyak hal yang menjadi teka-teki dalam hidupnya. Usianya masihlah 14 tahun ketika menikahi Bendoro. Hari-harinya yang diisi debur ombak langsung berganti dengan suasana gedung besar, sepi dan status sebagai istri pembesar. Namun bagaimana pun status yang ia sandangnya, ia tetaplah seorang gadis miskin yang datang dari pesisir. Terlebih, mereka tak memiliki derajat apa pun dalam masyarakat elite.

Perbedaan derajat juga ditonjolkan dalam tingkah laku Gadis Pantai bersikap pada si Bendoro, suaminya. Suaminya digambarkan sebagai seorang alim, beberapa kali tamat Quran, serta telah dua kali naik haji. Ketika berada dalam satu ruangan dengannya, maka untuk keluar dari ruangan itu, seseorang harus berjalan dengan berjongkok tanpa membalik badan.

Ada yang mengganggu pikiran saya. Bukan tentang apa yang dipikirkan Pram. Namun realita yang ia suguhkan dalam kisah ini. Bagaimana mungkin seorang beragama memperlakukan orang lain sedemikian kejamnya? Bendoro memang tidak digambarkan sebagai pria yang senang main tangan. Namun peliknya hubungan suami-istri lebih terasa ketika banyak hal tak dibagi pada Gadis Pantai. Ia dibiarkan hidup dalam tanda tamya besar. Hingga suatu hari, setelah dua tahun pernikahan mereka, Gadis Pantai menanyakan kabar burung kedekatan suaminya dengan perempuan yang dipilihkan keluarga mereka.

Pantaslah buku yang disebut Pram terdiri dari tiga jilid ini dihilangkan. Jilid kedua dan ketiga, entah di mana rimbanya. Hanya jilid pertama yang sampai ke tangan pembaca hari ini. Kisah Gadis Pantai memang menyinggung banyak pihak. Mereka yang mendahulukan ego individu di atas kemanusiaan, adalah pihak yang harusnya paling mereka. Mereka yang memiliki jabatan, status sosial, merasa hidup di atas awan. Kemiskinan yang dituturkan begitu. Namun mereka yang tetap ingin berkuasa, akan memberangus setiap penentang yang pernah ada.

Cerita buku ini lalu mengalir membedah kemanusiaan yang terenggut. Gadis Pantai. Kisah seorang perempuan yang berasal dari keluarga miskin pesisir yang dipingit oleh bangsawan. Menjadi satu hal membanggakan bagi orang yang biasa-biasa saja kemudian dilirik oleh dia yang punya posisi. Terkuaklah tabir-tabir penindasan kemanusiaan. Bagaimana mereka sesama bangsanya, menindas bangsanya sendiri.

Meski Gadis Pantai bersuamikan 'orang bersar', tinggal di gedung, memiliki pembantu, orang-orang kota tetaplah melihat ia sebagai orang kampung. Label orang kampung bermakna kotor, bodoh, dan kurang beriman. Makna inilah yang seakan dikonstruk kembali oleh Pram untuk memaksa masyarakat modern membuka mata. Benarkah mereka yang dari kampung demikian? Atau justru cap tertentu diberikan kepada mereka atas kepentingan pihak lain. Kepentingan pihak yang ingin langgeng memelihara budak.Hingga kini, masyarakat modern kita tetap saja mengadopsi pemikiran ini. Kolonialis berhasil menanamkan pemikiran itu.

Pram selalu mampu menguak kejahatan sosial budaya pada zaman di mana ia hidup. Kritiknya memang lintas zaman. Di pulau Buru menjadi tempat ia menghasilkan banyak tulisan untuk diselundupkan ke luar negeri. Pram dengan lincahnya mampu meramu sejarah menjadi literatur sastra. Penindasan oleh penjajahan Belanda memang terasa di negeri kita, tapi penindasan oleh bangsa sendiri tak pernah dibenarkan oleh kemanusiaan. Hingga kini, kritik itu masih terasa. Hingga kini, persoalan kemanusiaan masih saja ada. Hingga kini, bangsa sendiri yang menindas rakyatnya.

Lalu apa bedanya kita merdeka dari Belanda namun tetap mengadopsi watak mereka?

***

Jika protes tak lagi di dengar, sastra harus bicara!

Selasa, 13 Mei 2014

Demi God

BY Unknown IN , , No comments

Judul : Demi God
Penulis : Bahar Azwar
Format : Paperback 
Jumlah Halaman : 256
Tahun Terbit :  May 2005
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 979360073X

***

Saya lupa kapan tepatnya saya membaca buku ini. Seingat saya, buku ini saya dapatkan di tumpukan buku-buku discount di sebuah toko buku di Makassar. Awalnya, saya menganggap bahwa buku ini seperti buku fantasi sejarah yang lebih banyak berisi mitos.. Melihat sampul buku, saya siap untuk diajak bertualang ke masa silam. Gambaran di kepala saya, peperangan, perkelahian, pemberontakan akan mengiasi isi buku. Saat pertama kali membukanya, saya salah.  

Sampul belakang buku menyatakan seperti ini:
 
AHLI bedah adalah demigod. Titisan dewata ini diutus Penguasa Semesta Alam turun ke dunia sebagai penyebab kesembuhan. Bersenjatakan sebuah pisau penyembuh, Ropanasuri, ia malang melintang di arena berdarah melawan penyakit, dalam drama yang sudah dimainkan sejak dunia terkembang. Tragedi kadang tak terhindarkan tatkala kuasa terasa mutlak, tawaduk menjadi ria, rasio tercemar dengan rasa serta iringan nyanyian syaitan menyerukan Engkaulah Tuhan. Di saat itu pula ksatria tergelincir menjadi paria

Halaman demi halaman dari buku ini memang berisi peperangan, perkelahian, hingga pemberontakan. Namun ini sesuatu yang menjadi konflik para tokoh. Bukan perkelahian sesuangguhnya di atas tanah. Sesuatu yang lebih sulit, merasuk pada pemikiran mereka. Ini adalah sebuah bacaan bergenre science fiction. Dikemas dengan latar belakang dunia medis lengkap dengan seluk-beluk rumah sakit, profesi kedokteran, hingga kepanikan di ruang operasi. Menulisnya membutuhan riset yang bisa mengakses beberapa informasi rahasia tertentu.

Kehebatan sosok doktek bedah yang sering saya nonton di layar kaca menjadi kisah menegangkan di buku ini. Kita disuguhi pandangan lain tentang profesi dokter. Jika kalian pernah menonton film Good Doctor dari Korea Selatan, informasi ruang bedah juga dibahas dalam buku ini. Namun film tersebut dan buku ini berkisah dalam sudut pandang yang berbeda.

Seperti yang disampaikan oleh uraian singkat buku ini, Demigod diutus kedunia untuk membawa kesembuhan. Meski sebenarnya, bukan Demigod atau ahli bedah itu sendiri yang menyebabkan kesembuhan. Ada yang lebih pantas menyembuhkan yang memberikannya kepada Demigod.

Fiksi ini menawarkan angin segar bagi mereka yang ingin berpikir. Bab demi bab memang membawa kita bertualang hingga banyak rumah sakit di Indonesia. Ternyata, setiap rumah sakit di setiap daerah memiliki keterkaitan.

Meski kisah fiksi, nampak nyata penulisnya melakukan riset mendalam. Sisi psikologis seorang dokter yang melakukan malpraktik juga ditampakkan di sini. Sesungguhnya, malpraktik menjadi pesan lain yang tak nampak di sini. Kita sebagai pasien, hanya tahu bagaimana profesi dokter melakukan tindakan medis tanpa pernah berkompromi dengan pasiennya terlebih dahulu. Novel ini juga menguraikan bagaimana sesama profesi dokter akan saling melindungi dalam dunia keprofesian hingga ranah hukum ketika ada yang melakukan kesalahan di dalam ruang operasi.

Petualangan ini seperti nyata dan memiliki sejarah masa lalu. Ada mitos yang berkembang bagi profesi ini di dunia nyata, ahli bedah. Melalui buku ini, penulis seperti ingin menyampaikan bahwa terkadang kita terlalu berharap pada orang yang sebenarnya sama terbatasnya dengan kita. Mengingatkan agar tidak lupa sebagai orang yang dititipi pengetahuan. Bukan yang mengendalikan pengetahuan itu.

Lalu, masihkah anda menganggap bahwa ahli bedah adalah dewa?
 
selamat membaca.
selamat bertemu di ruang operasi

Minggu, 04 Mei 2014

Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik

BY Unknown IN , , , No comments

Judul Buku : Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik
Penulis : Saya Sasaki Shiraishi
Format :Paperback 
Jumlah Halaman : 11
Publikasi : January 2014
Penerbit :Komodo Books
ISBN : 9786029137
Edisi : Bahasa Indonesia
 
***
 
Jika orang tua kita hidup di masa pemerintahan orde baru, masa pemerintahan Soeharto sebagai presiden ke-2 Indonesia, dan membandingkannya dengan masa pemerintahan presiden-presiden setelahnya, maka sebagian dari mereka akan mengatakan bahwa era Soeharto lebih enak. Entah apa yang menjadi indikator mengapa mereka mengatakan enak.

Saya Sasaki Shiraishi memberikan penyajian fakta etnografis yang berbeda. Shiraishi membuka pendahuluan buku ini dengan menghubungkan konsep keluarga di Indonesia dengan pemerintahan Soeharto. Persepsi mantan penguasa 32 tahun di Indonesia itu tentang para pengawal, menteri, ajudan, atau pembantu-pembantu dekatnya disebut 'anak' oleh Soeharto. Dan sebaliknya, Soeharto akan disebut 'bapak' (Supreme Father) oleh 'anak-anaknya'.

Konsep keluarga yang dijelaskan oleh Shiraishi dalam buku ini adalah keluarga dalam arti hierarki. Dengan menganggap diri sebagai bapak, Soeharto menciptakan makna sebagai orang yang berkuasa atas anak-anaknya dan wajib untuk dipatuhi. Apa pun yang dikatakan oleh Soeharto, wajib untuk diikuti. 'Anak-anak' Soeharto kemudian dididik menggunakan prinsip kepemimpinan ABRI yang sekarang disebut TNI, yaitu Tut Wuri Handayani.

Tut Wuri Handayani yang diadopsi dari Ki Hajar Dewantara coba untuk ditafsirkan lain oleh Soeharto. Arti semboyan ini sebenarnya mengarah pada kebebasan setiap orang untuk mengembangkan diri namun ditafsirkan lain oleh Soeharto demi mewujudkan 'penertiban melalui penguasaan dan paksaan'. Beberapa prinsip pokok ajaran Ki Hajar Dewantara diperkenalkan oleh Soeharto untuk melembagakannya dalam sistem pendidikan 'benar' untuk diterapkan.

Dari kata 'keluarga' yang terdiri dari orang tua, kakek-nenek, kakak, adik, serta keluarga hingga kenalan menegaskan makna relasi kuasa. Bapak sebagai kepala keluarga disebut sebagai orang yang memiliki kuasa lebih besar. Konsep kuasa yang dilekatkan pada bapak dalam keluarga di Indonesia mengacu pada konsep bapak orde baru yang diinginkan Soeharto.

Hubungan dalam keluarga kemudian ditafsirkan sebagai relasi yang harus dipatuhi, ditaati, diikuti, sebagaimana model kepemimpinan ABRI atau TNI. Ini sangat jelas mengapa digunakan, untuk mewujudkan sesuatu yang tertib, dibutuhkan suatu paksaan.

Begitu pula di sekolah. Mengapa kita harus taat dan patuh pada Ibu/Bapak Guru di sekolah, yah...karena mengadopsi sistem ini. Jika kita mau merenung sejenak, yang harus dipikirkan, mengapa dalam konsep pendidikan kita patuh dan taat? Sebenarnya kepatuhan dan ketaatan kita untuk siapa?

Untuk apa para guru di sekolah membutuhkan kepatuhan kita? Kita harus mendefinisikan arti sekolah yang sesungguhnya. Jika sekolah hadir untuk mencetak manusia seragam, maka sistem komando itu dibutuhkan. Namun jika sekolah hadir untuk melahirkan manusia yang cerdas maka sistem komando tidak tepat digunakan.

Namun, inilah yang hadir hari ini di Indonesia. Empat generasi presiden yang memimpin Indonesia tak ubahnya Soeharto dalam hal pendidikan. Konsep Bapak/Ibu masih juga digunakan dalam arti perintah. Sekolah seperti sebuah cetakan besar untuk menghasilkan manusia pesuruh. Haruskah kita berhenti atau menarik diri dari sekolah?

Jika 'anak' melawan 'bapak', Shiraishi tak lupa pula menjelaskan bagaimana mahasiswa pada zaman itu diculik, disekap, dibunuh, hingga dimutilasi oleh rezim pemerintahan Soeharto karena mereka angkat bicara

Bahasa nasional membuat kaum muda menjadi bisu. Mereka digambarkan menjadi generasi bungkam yang tak tahu mengungkap pengekangan pada mereka. Bahasa nasional disebut tidak memilikinakar hanya karena sebagai bahasa perantara saja.

Soeharto memang dikenal memerintah dengan tangan dingin. Suara dibungkam, pelarangan karya Pramoedya Ananta Toer salah satunya menjadi contoh karya yang dilarang beredar oleh 'bapak'.

Mungkin, orangtua kita tidak sadar atas praktek sistemik yang diwariskan oleh rezim orde baru. Yang mereka tahu, hidup mereka sejahtera padahal tersiksa.

"Coba kecam raja-rajamu, belum habis kata-katamu berakhir menggeletat kau sudah akan roboh terkena mata pedang..."
(Pramoedya Ananta Toer

Jumat, 02 Mei 2014

Galaksi Kinanthi

BY Unknown IN , , No comments

Judul : Galaksi Kinanthi: Sekali Mencintai Sudah itu Mati?
Penulis : Tasaro GK
Format : Paperback 
Halaman : 432 pages
Tahun terbit : Januari 2009
Penerbit : Salamadani
ISBN : 9789791803595
Edisi : Bahasa Indonesia
Penghargaan : Anugerah Pena for Fiksi Terpuji (2009)
*** 

Saya sempat hapal mantra paling wajib dalam untaian kalimat yang berhasil membuat banyak pembaca bergetar.
Begini cara kerja sesuatu yang kau sebut cinta. Engkau bertemu seseorang, lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh, dan terbelah ketika dia menjauh
Tasaro GK memang pandai meramu kata. Kekuatan riset yang mendukung juga menjadi nyawa dari karya ini. Tema tulisannya tak jauh dari perempuan. Lebih tepatnya menyorot kisah tenaga kerja perempuan yang bekerja di luar negeri. Beberapa di antara mereka mendapatkan hidup layak. Beberapa di antara mereka pula harus merasakan pahirnya hidup di negeri orang.

Sesuai judulnya, nama tokoh utama dalam novel ini adalah Kinanthi. Seorang perempuan yang dibesarkan di desa. Ketika menginjak remaja, orang tuanya menukar Kinanthi dengan beras. Ajuj, sahabatnya, harus merelakan bagaimana Kinanthi pergi dari hidupnya. Kinanthi, gadis kecil yang tumbuh deiring tempaan waktu tetap menyimpan rasa rindu pada Ajuj, sekaligus benci.

Awalnya saya lupa, bagaimana perempuan dituliskan dalam kisah ini. Kepiawaian Tasaro membuat saya terlena bahwa kisah Kinanthi sesungguhnya tidak dituliskan dalam sudut pandang seorang perempuan. Ia dituliskan dalam sudut pandang lelaki. Benarkah lelaki memandang perempuan lebih banyak sebagai objek eksploitasi?

Tidak untuk menuntut sebenarnya, namun menurut saya ada cara pandang melihat perempuan yang sulit ditafsirkan. Begitu saja, mengalir. Padahal, banyak muatan psikologi di novel ini yang bagus untuk diapresiasi kembali.

Realita perempuan yang digambarkan adalah fakta yang terjadi di belahan bumi manapun. Diskriminasi hingga perdagangan manusia adalah tema yang mewarnai sebagian besar isi buku..

Melalui gambaran kisah Kinanthi dan Ajuj, kita diajak bertualang melihat budaya timur dan barat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, khususnya masyarakt desa. Bagaimana kehidupan sosial mengubah banyak orang. Tentang peristiwa masa lalu dan yang digeluti kini oleh manusia modern tak pernah lepas dari masa lalunya. Sebenarnya, saya menyimpan sebuah ketakutan ketika membaca buku ini di awal. Semoga akhir buku ini tidak menyimpulkan bahwa seorang perempuan yang baik adalah mereka yang sukses dalam karir.

Bercermin pada perjalanan Kinanthi, hidup memberikannya makna dengan cara yang harus dilaluinya. Hidup Kinanthi tak mulus. Ia harus merasakan bagaimana dikirim menjadi seorang tenaga kerja ilegal ke Saudi Arabia. Di saat yang sama, Tasaro mempertontonkan dengan gamblang bagaimana Saudi seharusnya tidak menjadi tujuan kita mengirimkan tenaga kerja. Beberapa di antara mereka diperlakukan selayaknya binatang. Mungkinkah kemanusiaan dilelang di tanah suci kelahiran Baginda Nabi?

Kritik pada banyak kalangan begitu mengena dari narasi milik Tasaro. Kritik paling tajam diarahkan pada pemerintah yang harus mengeluarkan regulasi tentang keamanan TKI khususnya perempuan. Berada jauh dari rumah membuat semua kemungkinan buruk bisa terjadi. Pemerintah punya PR besar ketika sejumlah kasus tentang pekerja migran bergaung di media.

Tahun 2014 saja bahkan telah dibuka dengan kisah Satinah, tenaga kerja yang terancam dihukum mati. Mesti kasusnya telah lama bergulir, barulah pada detik-detik terakhir tenggat pembayaran denda baginya mencuat di media nasional kita. Ini emperlihatkan bagaimana pemerintah tidak serius menanggapi isu ini. Selain itu, kita memang lemah pada sisi payung hukum. Cerita ini menurut penulisnya bukan rekaan semata. Ini diangkat dari kisah nyata.

Senin, 21 April 2014

Gelap Terang Hidup Kartini

BY Unknown IN , , , 2 comments

Judul Buku : Gelap Terang Hidup Kartini
Penulis : Tim Buku Tempo
Cover : Paperback1
Halaman : 48 hal
Published June 2013
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN :  139789799105912
Edisi : Bahasa Indonesia

***

Buku ini awalnya diterbitkan dalam bentuk edisi khusus majalah Tempo edisi 22 - 28 April 2013. Mengambil judul yang sama, Gelap Terang Hidup Kartini mengulas bagaimana kita harus bersikap adil pada sejarah. Opini dengan judul yang sama pun memberikan arahan kepada kita sebagai pembaca agar tidak mengapresiasi sejarah secara berlebihan.

Dalam kutipan bahwa Kartini mati muda, gagasannya mencerahkan dan mengilhami, meninggalkan ratusan surat, hingga menelusuri hidupnya sampai Deen Hag, Belanda, membuat saya berkerut kening.

Diperhadapkan pada sebuah fakta sejarah, Kartini adalah pejuang emansipasi bagi perempuan. Suaranya di dengar. Hari kelahirannya diperingati secara besar-besaran. Media mengenakan kebaya, sebagai lambang pakaian adat yang dikenakan kartini. Menyisir rambut mereka dengan sanggul.

Lahir di keluarga bangsawan, ayahnya seorang Bupati Jepara. Di usia muda, menikah dengan seorang duda, Bupati Rembang. Kebimbangan menerpa hidup perempuan muda ini. Ia diperhadapkan pada kebimbangan memilih untuk mengembangkan dirinya, atau belajar.

Menilai sisi hidup Kartini, bukankah kita tidak bisa menerjemahkannya lurus-lurus saja? Melalui surat-suratnya yang diterbitkan, sejumlah tanya memang hadir darinya tentang konsep budaya yang menindas kesempatan setiap orang untuk belajar. Itu baik. Namun, mengapa harus belajar pada Belanda, di Eropa? Kartini bahkan dijanjikan untuk bersekolah di sana. Meski hingga hayat, itu tak kesampaian.

Era kolonialisme menjadi tahun yang memberikan pelajaran banyak bagi penindasan manusia. Penjajah datang dengan menjarah. Memasang wajah baik, menerapkan politik etis sebagai bentuk balas budi, namun itu tidaklah cukup. Pendidikan yang diberikannya tidak merata. Mereka malah kaget ketika banyak anak muda di jajahan Hindia Belanda yang berteriak lantang. Kesadaran mereka bangkit. Mereka menyadari bahwa apa yang dilakukan pemerintahan kolonial masa lalu adalah penindasan.

Mengapa harus Kartini? Sebagai bentuk balas budi, pihak kolonial mengiming-imingi banyak pelajar untuk sekolah di negeri Belanda. Untuk apa? agar mereka tidak menjadi senjata dalam selimut yang menikam dari dalam.

Sejarah Indonesia yang kokoh dengan bentuk kerajaan di masa lalu, hidup bergelimang perang. Mereka habis-habisan bertempur melawan Penjajah Belanda. Setiap perempuan dari berbagai kerajaan di nusantara, terlahir dengan takdir untuk melawan penjajahan bagi rakyatnya.

Namun feodalisme jawa yang kental di masa lalu memberi angin segar pihak penjajah. Kartini dimanfaatkan. Perempuan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Dewi Sartika, Emmy Saelan, dan lainnya tidak mendapat porsi penghormatan seperti Kartini. Mengapa? Karena mereka adalah mengangkat senjata.

Memang sempat terjadi perdebatan ketika hari lahir Kartini harus diperingati termasuk pengangkatannya menjadi pahlawan. Sejarah itu harus objektif, mengajarkan kita bahwa masa lalu adalah waktu terbaik untuk belajar kearifan
.

Pada beberapa bagian di buku ini, saya sepakat. Bahkan ketika disebut Kartini memberontak terhadap feodalisme, poligami, dan adat-istiadat yang mengungkung perempuan, secara logis saya masih sepakat. Sistem feodal masa lalu yang hadir khusus untuk menindas perempuan mengingatkan kita pada kisah Minke dan Nyai Ontosoroh dalam karya Bumi Manusia milik Pram.

Namun saat Kartini baru bermimpi, saat Kartini baru menuliskan surat-surat yang sebagiannya isinya tak ditampilkan, pejuang perempuan dari daerah lain di Indonesia tidak digubris sebesar perhatian pada Kartini.