Senin, 21 April 2014

Gelap Terang Hidup Kartini

BY Unknown IN , , , 2 comments

Judul Buku : Gelap Terang Hidup Kartini
Penulis : Tim Buku Tempo
Cover : Paperback1
Halaman : 48 hal
Published June 2013
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN :  139789799105912
Edisi : Bahasa Indonesia

***

Buku ini awalnya diterbitkan dalam bentuk edisi khusus majalah Tempo edisi 22 - 28 April 2013. Mengambil judul yang sama, Gelap Terang Hidup Kartini mengulas bagaimana kita harus bersikap adil pada sejarah. Opini dengan judul yang sama pun memberikan arahan kepada kita sebagai pembaca agar tidak mengapresiasi sejarah secara berlebihan.

Dalam kutipan bahwa Kartini mati muda, gagasannya mencerahkan dan mengilhami, meninggalkan ratusan surat, hingga menelusuri hidupnya sampai Deen Hag, Belanda, membuat saya berkerut kening.

Diperhadapkan pada sebuah fakta sejarah, Kartini adalah pejuang emansipasi bagi perempuan. Suaranya di dengar. Hari kelahirannya diperingati secara besar-besaran. Media mengenakan kebaya, sebagai lambang pakaian adat yang dikenakan kartini. Menyisir rambut mereka dengan sanggul.

Lahir di keluarga bangsawan, ayahnya seorang Bupati Jepara. Di usia muda, menikah dengan seorang duda, Bupati Rembang. Kebimbangan menerpa hidup perempuan muda ini. Ia diperhadapkan pada kebimbangan memilih untuk mengembangkan dirinya, atau belajar.

Menilai sisi hidup Kartini, bukankah kita tidak bisa menerjemahkannya lurus-lurus saja? Melalui surat-suratnya yang diterbitkan, sejumlah tanya memang hadir darinya tentang konsep budaya yang menindas kesempatan setiap orang untuk belajar. Itu baik. Namun, mengapa harus belajar pada Belanda, di Eropa? Kartini bahkan dijanjikan untuk bersekolah di sana. Meski hingga hayat, itu tak kesampaian.

Era kolonialisme menjadi tahun yang memberikan pelajaran banyak bagi penindasan manusia. Penjajah datang dengan menjarah. Memasang wajah baik, menerapkan politik etis sebagai bentuk balas budi, namun itu tidaklah cukup. Pendidikan yang diberikannya tidak merata. Mereka malah kaget ketika banyak anak muda di jajahan Hindia Belanda yang berteriak lantang. Kesadaran mereka bangkit. Mereka menyadari bahwa apa yang dilakukan pemerintahan kolonial masa lalu adalah penindasan.

Mengapa harus Kartini? Sebagai bentuk balas budi, pihak kolonial mengiming-imingi banyak pelajar untuk sekolah di negeri Belanda. Untuk apa? agar mereka tidak menjadi senjata dalam selimut yang menikam dari dalam.

Sejarah Indonesia yang kokoh dengan bentuk kerajaan di masa lalu, hidup bergelimang perang. Mereka habis-habisan bertempur melawan Penjajah Belanda. Setiap perempuan dari berbagai kerajaan di nusantara, terlahir dengan takdir untuk melawan penjajahan bagi rakyatnya.

Namun feodalisme jawa yang kental di masa lalu memberi angin segar pihak penjajah. Kartini dimanfaatkan. Perempuan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Dewi Sartika, Emmy Saelan, dan lainnya tidak mendapat porsi penghormatan seperti Kartini. Mengapa? Karena mereka adalah mengangkat senjata.

Memang sempat terjadi perdebatan ketika hari lahir Kartini harus diperingati termasuk pengangkatannya menjadi pahlawan. Sejarah itu harus objektif, mengajarkan kita bahwa masa lalu adalah waktu terbaik untuk belajar kearifan
.

Pada beberapa bagian di buku ini, saya sepakat. Bahkan ketika disebut Kartini memberontak terhadap feodalisme, poligami, dan adat-istiadat yang mengungkung perempuan, secara logis saya masih sepakat. Sistem feodal masa lalu yang hadir khusus untuk menindas perempuan mengingatkan kita pada kisah Minke dan Nyai Ontosoroh dalam karya Bumi Manusia milik Pram.

Namun saat Kartini baru bermimpi, saat Kartini baru menuliskan surat-surat yang sebagiannya isinya tak ditampilkan, pejuang perempuan dari daerah lain di Indonesia tidak digubris sebesar perhatian pada Kartini.

Jumat, 21 Februari 2014

Perempuan

BY Unknown IN , No comments

Judul Buku   : Perempuan
Penulis         : Quraish Shihab
Penerbit       : Lentera Hati
Tahun Terbit : 2009

Buku ini dibuka dengan kalimat pada sekapur sirih yang berbunyi "Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi lelaki, demikian pula sebaliknya. Ciptaan Allah itu pastilah yang paling baik dan sesuai buat masing-masing".

Penggalan ini menjadi ulasan pembuka yang berangkat dari hakikat penciptaan perempuan. Dalam penciptaan, perempuan dan lelaki tak ada bedanya. Ditegaskan lagi pada kalimat selanjutnya bahwa "Tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak sempurna dalam potensinya saat mengemban tugas serta fungsi yang diharapkan dr ciptaan itu". Betapa sempurnanya ciptaanNya sehingga ditetapkanlah takaran dimana keduanya saling melengkapi.

Mengapa perempuan yang menjadi tema sentral buku ini?

Pada bagian awal dijelaskan bahwa penulis menaruh hormat, memuliakan, mengagumi perempuan. Tidak hanya ia sebagai anak yang memiliki ibu, memiliki istri, serta memiliki anak perempuan. Tetapi ada alasan yang lebih dari itu.

Seperti yang disebutkan buku ini bahwa semua lelaki, termasuk nabi suci sekali pun, harus mengakui bahwa dia membutuhkan perempuan untuk menyalurkan cinta yang terdapat dalam jiwanya sehingga jika seorang lelaki tidak menemukan perempuan yang dia cintai, dia akan mencintai perempuan yang ia temukan. 

Jadi betapa pentingnya perempuan dalam kehidupan hingga selama ratusan kita mempelajari perempuan, kita tetap saja belum mengetahui siapa dia dan apa sebenarnya yang dia inginkan.

Buku ini begitu kaya wacana, kaya tokoh, membedah pemikiran, hingga mampu membuat kita terperangah.

Satu lagi kutipan pada awal buku "Mencintai seorang perempuan mencukupi seorang lelaki, tetapi untuk memahaminya seribu lelaki pun belum cukup."

Alasan pentingnya buku ini hadir untuk menjelaskan pada kita bahwa perempuan adalah makhluk Tuhan yang penciptaannya sempurna, berasal dari jiwa yang sama dari penciptaan laki-laki. Betapa sempurnaNya Tuhan hingga makhluk yg diciptakanNya terejawantahkan manifestasinya. Maka sangatlah penting untuk mengenal perempuan. Terlebih lagi lahirnya beberapa pandangan yang sebenarnya lahir karena tidak benar-benar mengenal perempuan yang berasal dari Pencipta semesta, maka lahirlah bias pandangan tentang perempuan. 

Buku ini seakan menegaskan bahwa perempuan memiliki kemuliaannya tidak seperti pandangan lama yang menegaskan penindasan atas perempuan. Cara pandang melihat perempuan pun coba untuk dibenahi disini. Pandangan masa lalu seperti apa yang dijelaskan oleh Socrates, Plato, Aristoteles hingga pemikir kontemporer 

Selasa, 11 Februari 2014

Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

BY Unknown IN , , No comments

Cover Buku




 
Judul : Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh
Penulis : Dewi 'Dee' Lestari
Publikasi : Published March 2012
Peerbit : PT Bentang Pustaka
Jenis Cover : Paperback
Halaman : 322 pages.








--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tuhan bercerita. Tuhan bercerita lewat ciptaanNya. Tuhan bercerita dengan menggambarkan kehidupan ciptaanNya. Ia mampu membuat sebuah cerita kehidupan yang di dalamnya mampu membuat cerita lagi. Akan ada tuhan kecil lagi untuk sesuatu yang lebih kecil. Sesuatu yang akan lebih berkuasa atas hal-hal yang lebih kecil dari dirinya.

Ada kehidupan nyata yang seperti terjadi di dalam cerita dan ada cerita memiliki dirinya di kehidupan nyata. Novel ini berhasil menggabungkan dua sisi tersebut.

Dikisahkan sepasang pasangan homoseksual berikrar akan identitas diri mereka masing-masing yang diakibatkan oleh badai serotonin yang menyelimuti mereka. Dhimas dan Ruben. Dhimas seorang mahasiswa English literature dan Ruben mahasiswa Medical School  mengikat janji badai serotonin mereka yang tiga bulan dua puluh satu hari berikutnya menjadi badai endorphin, badai cinta. Mereka membuat sebuah maha karya setelah sepuluh tahun hubungan mereka. Sebuah masterpiece yang membantu menjembatani semua percabangan sains.

Karya mereka berdua kemudian dikemas dalam bentuk cerita. Roman sains yang romantis, sekaligus puitis. Kisah ini dikemas menjadi kisah cinta yang tidak biasa-biasa saja, kontroversial, bahkan ada pertentangan nilai moral dan sosialnya. Lalu, mereka menciptakan kehidupan ceritanya dengan mengangkat sebuah cerita dari satu cerita, dongeng.

Tokoh utama. Sesosok pria homoseksual dan ternyata ia menyukai wanita juga, heteroseksual. Hingga lahirlah sosok ksatria, sang puteri dan si bintang jatuh.
Bumbu kehidupan pun bermain. Aktor yang nyata pun tampak. Ada Ferre dan Rana. Dua orang yang mencintai dengan sepenuh hati dan dipertemukan tidak dalam sebuah kesengajaan. Ferre mencintai Rana yang telah menikah. Seperti menyibak kondisi sosial yang ada di masyarakat kebanyakan. Ferre tak peduli lagi cintanya tepat atau tidak, tak peduli lagi ia tampak atau tidak, atau bahkan hanya bahagia dengan dirinya atau hanya dengan sel otaknya.

Beragam pandangan berbeda pun berani di kemukakan di novel ini. Digambarkan sang ksatria    -Ferre- merasa bahwa cinta itu tidak membebaskan, membelenggu, bahkan menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan. Alangkah tak optimis hidupnya. Kisah ini berusaha menggambarkan bagaimana fenomena di lingkungan kehidupan tak dimaknai. Cinta sebagaimana cinta tak pernah memiliki batasan lain kecuali cinta itu sendiri. Secara hakikat, ia tidak terbatas. Ada rasa yang dianugrahkan dan bahkan tak pernah mengenal untuk siapa dan apa saja. Tetapi batasan kemudian muncul untuk esensinya. Ranah praksis cinta itu sendiri. Karena sesuatu yang telah ada di alam ini kemudian yang mengenal konsep batasan. Ketika ia katakan bahwa cinta itu tidak membebaskan, di ranah mana cinta itu tidak membuatnya bebas untuk mencintai. Buktinya ia malah jatuh cinta kepada orang yang tak pernah ia duga. Bukan batasan kepada siapa, tidak. Tidak seperti kuantitas tapi pada kualitas cinta itu. Tergambar dari ungkapannya yang tak peduli lagi ia tampak atau tidak, cintanya akan tetap ada. Itulah sesuatu yang tak terbatas itu. Rasa cintanya yang tak lagi dibatasi oleh wujud materinya karena wujud materi bukan penghalangnya, tetapi sesuatu yang menjadi turunan non materi cinta. Dan mereka sepakat bahwa cinta, tidak butuh tali. Ia membebaskan dan buat apa melawan arusnya dan saling menjajah.

Untuk sosok bintang jatuh yang mereka ciptakan dari cerita yang ada cerita di dalamnya ini, evolusi emosional besar. Karena kisah ini merupakan dongeng yang diangkat tetapi tak sepenuhnya sama. Sesuatu lain dari kebanyakan ditawarkan. Ketika dikisahkan di dalam dongeng bahwa bintang jatuhlah kemudian yang akan mendapatkan sang puteri, mereka menolak. Seolah-olah cerita ini akan sangat mudah untuk di tebak. Mereka lalu ingin meninggalkan konsep itu. Sesuatu yang mampu melahirkan balas dendam dari konsep rebut merebut. Maka, bintang jatuhnya adalah seorang wanita. Refleks emosi yang bergulir kearah kedewasaan sejati, dan bukan balas dendam. Nyaris altruistik. Sesuatu yang dikira nyata padahal hanya ada satu dari lapisan multidimensi yang tak terhingga. Seperti kata Abraham Maslow bahwa ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya, ia dimungkinkan mengejar pencarian lebih tinggi yaitu aktualisasi diri. Pengetahuan akan dirinya sendiri di level paling dalam. Dan dialah bintang jatuh sesungguhnya. Tidak untuk sang puteri, ia untuk sang ksatria.

Alur kisah cinta mereka berbahan semesta dan berbumbu epistemologi. Sebuah konsep eksistensi cinta yang tak terbatas. Adak arena sesuatu yang besar juga ada. Tak terikat oleh waktu dan bahkan ruang. Rana –Sang Puteri- tak pernah mengalah atas beragam pilihan yang ada di alam ini. Ia hanya menyerahkannya kepada kemutlakan. Karena sebenarnya, ia mutlak harus memilih suaminya bukan kesatria. Dan hadirnya sosok supernova pada kehidupan maya ternyata memonitoring kisah mereka. Ialah sesosok perempuan berkulit pakaian glamor tetapi berotak filsafat. Lebih hebat dari politisi mana pun.

Kehidupan manusia di alam ini hanya mengenal konsep batasan, waktu. Konsep ini hanya ada dalam pikiran manusia, bukan fisik. Sel sendiri tak mengenal waktu. Ia hanya memperbarui diri, terus menerus, tanpa ada sangkut-pautnya dengan hitungan sekon. Manusia sendiri yang menciptakan linealitas waktu dan setuju untuk mengikutinya. Konsep ini lahir dari keinginan fundamentalnya untuk punya kendali atas hidup, termasuk mengendalikan diri sendiri. Masa depan, masa lalu, dan masa sekarang hanya ada satu gerakan tunggal yaitu kekekalan.

Dan mereka semua, hanyalah sebuah konsep. Konsep yang lahir dari pemikiran pasangan homoseksual yang keeksistensiannya hanya dalam ukiran lembar buku. Hanya ada di ruang kerja tanpa pernah beranjak ke mana pun. Dan mereka juga di lahirkan dari konsep rahim seorang penulis berepiste tinggi dengan segala turbulensi kehidupan kekal di dalamnya.