Senin, 08 Desember 2014

Review Filosofi Kopi

BY Unknown No comments

Cover
Judul Buku : Filosofi Kopi
Penulis : Dewi Lestari
Genre : Fiksi
Cover : Paperback 
Hal134 pages
Tahun terbit : 2007 by Truedee Books, Gagas Media (first published 2006) 
 
Original title
Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
ISBN : 9799625734
ISBN13: 9789799625731
Edisi Bahasa : Indonesia

FILOSOFI KOPI Temukan diri anda di sini. Adalah kumpulan cerpen dari Ibu Suri Dee Lestari yang membuat saya pertama kali bisa minum kopi. Saya tertarik dengan caranya meramu setiap cerita dan prosa lalu disajikannya dalam sebuah buku.

Anak kandung Dee yang satu ini menyuguhkan delapan belas judul ciamik yang sayang untuk dicicipi. Filosofi kopi adalah salah satu cerita dalam kumpulan tulisan ini. Mengisahkan dua orang anak muda, Ben dan Jody, yang membangun bisnis kedai kopi. Awalnya nama kedai mereka adalah Kedai Koffie BEN & JODY. Lambat laut, kedai itu berganti nama menjadi FILOSOFI KOPI.

Sosok tokoh, karakter, juga latar dalam cerita ini perpaduan menarik kehidupan manusia urban. Mereka yang menjalani segala sesuatu dengan sangat mekanik, tertarik melakukan yang mereka sukai, tanpa pernah menemukan makna. Ya, cerita ini mengantar kita dalam menemukan makna rutinitas dan pelabelan diri berlebih yang sering kita sematkan pada diri sendiri. Melalui kisah Ben dan Jody, Dee mengajak kita untuk bercermin. Caranya?

Penulis yang baik merupakan penulis yang membuat kita merefleksikan hidup dalam karyanya. Dan Ibu suri Dee telah melulusi semua ujian itu. Ben, sosok barista yang memberikan makna pada setiap kopi yang dibuatnya diperhadapkan pada seorang pengunjung yang menginginkan kopi sempurna. Sempurna? Aduh, kedengarannya sulit untuk menemukannya. Namun Ben yang menjawab kalau kopi sempurna itu tak ada, hanya yang mendekati makna sempurna, membuat pelanggan itu menantang Ben. Lalu tantangan itu diterimanya. Dengan imbalan Rp. 50 juta yang juga membuat biru mata Jody, partner bisnis sekaligus sahabatnya yang hanya peduli pada profit, kopi terenak di dunia pun lahir.

Tak hanya sampai di situ saja. Jika memang mereka mampu membuat kopi yang sempurna, seperti kebanyakan dari kita mengklaim hasil kerja kita sebagai yang terbaik, Ben akhirnya terpukul. Ben's Perfecto, nama kopi sempurnanya, tidak lagi sempurna. Seorang pelanggan yang biasa saja datang ke kedai mereka. Kopi sempurna hanya disebutnya lumayan.

Dengan ekspresi sopan, bapak itu mengangguk-angguk, "Lumayan," jawabnya singkat lalu terus membaca. hal. 16 Filosofi Kopi

Entah takdir mana yang tengah dijalani Ben dan Jody. Keinginan, pencapaian, ambisi akhirnya harus melebur jua. Entah penulis ingin menampar hidup modern yang tak bermakna atau seperti apa. Yang saya tahu, yang saya temukan sebagai pembaca, bahkan segelas kopi pun adalah pemuas dahaga bagi mereka yang miskin makna kehidupan.

Selain Filosofi Kopi, masih ada lagi sejumlah prosa juga cerita yang sama kayanya dengan Filosofi Kopi. 

Selamat membaca.


Sabtu, 22 November 2014

Review Buku Mandar Nol Kilometer

BY Unknown IN , , No comments

Judul Buku : Mandar Nol Kilometer, Membaca Mandar Lampau dan Hari Ini
Penulis : Muhammad Ridwan Alimuddin
Penerbit : Ombak
Tahun : 2011


Berapa kali mengunjungi tanah Mandar meninggalkan kekaguman tersendiri. Seperti ada magnet kuat yang membuatnya untuk dikaji ulang bahkan diperhatikan lebih dekat. Pada suatu sore saat berkunjung ke toko buku, ada Mandar Nol Kilometer di sana. Buku di rak itu bergegas berpindah tangan.

*

Sebuah bacaan budaya yang menarik adalah bacaan yang disajikan secara etnografi, sebuah kajian komprehensif dan detail mengkaji kebiasaan masyarakat hingga menghasilkan sebuah budaya, adat-istiadat, bahasa, pola interaksi, serta hal paling terdalam dalam masyarakat, perasaan individu. Dan menurut saya, Mandar Nol Kilometer yang dituliskan oleh Muhammad Ridwan Alimuddin ini mengisi kehausan kita mengenai rekam jejak budaya bangsa. Siapa lagi yang harus menuliskannya jika bukan anak bangsa sendiri?

Secara garis besar, buku ini terbagi atas tujuh bagian tulisan. Masing-masing bagian diberi tema tertentu oleh penulis. Mulai dari sejarah Mandar hingga budaya literasi yang digiatkan oleh anak Mandar. Pada bagian sejarah, kita tidak diajak langsung bertamasya ke Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, tapi ke sebuah kota bernama Tinambung. Selain tempat kelahiran penulisnya, Tinambung dulunya adalah sebuah kota dengan geliat pengetahuan yang tinggi.

Kampung Mandar, seperti halnya perkampungan Bugis, juga tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Kampung Mandar paling terkenal adalah Ujung Lero.

"Kampung orang Mandar yang paling terkenal adalah Ujung Lero di Kabupaten Pinrang, tak jauh dari kota Pare-pare. Wajar saja, letaknya hanya beberapa jam berlayar dari teluk Mandar,"
~hal.22, Mandar Nol Kilometer

Tanah Mandar juga terkenal dengan beragam kisah gaibnya. Penyebar Islam Tosalamaq Imam Lapeo, yang hingga kini masih bisa dijumpai makamnya di halaman Mesjid Nur Al-Taubah di Lapeo, memiliki kisah gaibnya tersendiri. Suatu ketika ia tengah berceramah pada murid-muridnya. Di tengah forum, ia lalu keluar ruangan dan melakukan gerakan dengan mengangkat tangan ke atas. Tak lama setelah itu, datanglah seorang tamu dari Bugis yang berterimakasih atas pertolongan Tosamaq Imam Lapeo. Tamu ini menceritakan pengalamannya diterjang ombak dan badai ganas di lautan lalu ditolong oleh Tosamaq Imam Lapeo.

Perkara tradisi juga menjadi hal yang penting di tanah Mandar. Posiq (pusar; pusat) memiliki posisi tersendiri dalam kebiasaan masyarakat. Jika membuat sesuatu, pastilah memiliki pusat. Bahkan jika mereka memiliki tradisi membuat mobil atau pesawat, pasti memiliki pusat. Istilah pusat pun juga berhubungan dengan perlakuan mereka ketika ada yang akan pergi melaut hingga hendak melaksanakan ibadah haji. Makna filosofis Posiq tak lain sebagai ritual yang menghubungkan manusia dan Tuhan dengan mengingatnya, mengingat bahwa padaNyalah harapan dari setiap usaha.

Budaya Mandar adalah apa yang ada di masa lalu, diyakini masyarakatnya, hingga terciptanya budaya baru sebab pertemuan budaya lain. Budaya kontemporernya juga bergeliat sering perkembangan zaman. Karya pemula menempati hati masyarakat. Saya jadi penasaran, bagaimana aroma film indie berjudul 45!!! karya anak Mandar.

Review Novel Milana

BY Unknown No comments

Judul Buku : Milana
Penulis : Benz Bara
Hal : 192
ISBN : 978-979-22-9507-8
Terbit : April 2013
Cover : Soft Cover

Milana adalah kumpulan cerpen tunggal pertama yang dituliskan oleh Bernard Batubara. Berisi lima belas cerita pendek bertema perempuan.

Lukisan Kali dan Pohon Tua, Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari, Lelaki Berpayung dan Gadis Yang Mencintai Hujan, Goa Maria, Tikungan, Jung, Pintu yang Tak Terkunci, Cermin, Malaikat, Surat Untuk Fa, Hanya Empat Putaran, Semalam Bersama Diana Krall, The Beautiful Stranger, Semangkuk Bubur Cikini dan Sepiring Red Velvet, serta Milana, adalah judul cerita yang dituliskan dalam buku ini.

Bara, begitu penulis kerap disapa, cukup berani menulis tentang perempuan yang dituangkan dalam sebuah cerita pendek. Sebagian besar bercerita tentang romantika perpisahan, perselingkuhan, jatuh cinta, penantian, bahkan jati diri perempuan. Apresiasi besar harus diberikan pada sebab keberaniannya. Entah perempuan mana yang ditelitinya hingga ia membukukan kisah-kisah tadi.

Beberapa kisah membuat saya heran. Bisa jadi ini harapan Bara pada pembacanya. Beberapa kali saya harus menemukan kalimat-kalimat panjang, yang sebenarnya bisa dipendekkan lagi, agar lebih efektif. Sebagai pembaca, membaca sebuah kalimat dengan menahan napas adalah hal yang jarang disukai.

Sudut pandan Bara tentang perempuan mungkin berangkat dari pengalaman kesehariannya. Berapa banyak hubungan romantika yang pernah dijalinnya? Berapa kali sakit hati yang dirasakannya? Berapa sering sekingkuh, ditinggal pergi, serta rumitnya sebuah hubungan dialamainya? Mungkin itulah landasannya. Namun, Bara kurang mengksplore sudut pandangnya pada hal yang sifatnya detail pada perempuan. Emosi yang dibawanya dalam cerita masih butuh untuk dieksplor lagi.

Seperti pada cerpen Cermin. Bara harus jeli menghubungkan realita zaman. Apakah gadis jelita yang diceritakannya hidup pada zaman modern atau masa lalu di mana televisi tak dikenal. Detail teknis bahwa pria yang jatuh hati pada gadis, buruk rupa akibat cermin, harus diuraikannya menggunakan bahasa sastra. Alasan-alasan kecil mengapa si pria mengagumi ketampanannya, bagaimana rasanya memiliki cinta dalam hati yang tertahan, dan sebagainya.

Cerpen tentang perempuan yang dituliskan Bara semoga memberi pelajaran berharga bagi para perempuan dan membuatnya mampu memetik nasihat. Semoga melalui kisah yang ditulis Bara, perempuan di mana pun berada tak beranggapan bahwa hidup hanya tentang jatuh cinta pada pria, menangis ketika ditinggal, selingkuh saat memiliki pasangan, ataupun menanti penuh harap.

Hal yang juga mampu diragukan kemudian, bagaimana para remaja yang membaca kisah ini bisa berpikir kritis. Setiap orang memang memiliki kisahnya sendiri, namun terkadang khayalan bisa mengaburkan realita tentang siapa diri kita.

Selamat membaca Milana.

Senin, 27 Oktober 2014

Nelayan Makassar; Kepercayaan, Karakter

BY Unknown IN , , 1 comment


Judul Buku : Nelayan Makassar Kepercayaan, Karakter
Penulis : Prof. Dr. Tajuddin Maknun, S.U.
Penerbit : Identitas Unhas, Makassar
Cetakan : I
Tahun terbit : 2012
ISBN : 978-6028405-26-3

Makassar adalah salah satu wilayah Indonesia di sisi timur yang memiliki potensi kemaritiman. Ditulis oleh seorang Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Makassar, buku ini menyajikan secara lengkap tentang kehidupan nelayan mulai dari keyakinan hingga kebiasaannya. Tulisan ini adalah hasil penelitian yang diharapkan menambah wacana budaya masyarakat hingga terjalin integritas sosial dan harmoni kultural etnis. 

Ketika melihat buku ini pertama kali terpajang pada sebuah toko buku di pusat perbelanjaan, saya memilih mengamatinya dengan seksama. Ditulis oleh dosen saya di kampus. Saya memang bukan mahasiswanya, apalagi terdaftar di Fakultas Sastra. Saya hanya peminat bacaan budaya dan sastra yang tidak digandrungi anak muda. Berada pada jajaran buku budaya, saya tahu. Buku ini tidak masuk kategori ‘best seller’. 

Buku bersampul merah darah ini berisi uraian mengenai foklor lisan (doa atau mantra), legenda Galesong, masyarakat Galesong, sistem pengetahuan tradisional, hingga lagu yang digunakan memanggil ikan.

Sistem kepercayaan yang dianut masyarakat nelayan tidak lagi banyak bertahan. Buku ini seperti oase dalam dahaga mencari jejak kearifan masa lalu. Dalam buku Nelayan Makassar ini, karakter nelayan kemudian ditonjolkan pada sistem nilai yang mereka anut. Profesi nelayan tidak hanya sekedar orang yang dipandang mengambil ikan di laut. Menjadi nelayan berarti berbicara tentang menjaga keseimbangan alam yang menyediakan sumber daya bagi manusia.

Uniknya, karakter masyarakat nelayan kemudian tercermin dari sistem kepercayaan mereka. Mereka meyakini bahwa alam dan manusia haruslah hidup berdampingan. Untuk menjaga kelangsungan eksistensi alam semesta yang menyediakan makanan bagi manusia, manusia haruslah berterimakasih. Kemudian terlaksanalah bentuk penghargaan itu pada kebiasaan mereka dalam keseharian. Bentuk memuliakan laut dilakukan dengan mengadakan upacara ritual sebelum turun mencari ikan, mereka juga mematuhi waktu agar tangkapan berjumlah banyak, apa yang harus mereka lakukan dalam persiapan melaut, mantra yang dirapalkan saat menaiki perahu, juga lagu dalam memanggil ikan.

Humanisme tampak dalam cengkrama para nelayan terhadap ikan dan manusia. Ada pembagian struktural dalam kapal. Begitu pula posisi bagi hasil antara punggawa dan sawi. Ikan diperlakukan selayaknya ia makhluk hidup yang didatangkan dengan keikhlasannya. Rejeki (ikan) yang diperoleh nelayan bukan pula kekayaan yang ditujukan pada ketamakan.
Bacaan ini memang bersifat ilmiah. Namun menjadi sebuah khasanah baru bagi kita yang mengetahui bagaimana seekor ikan tersaji di piring makan. Bacaan ini membuka mata kita bahwa ikan yang diperdagangkan memiliki muatan ekonomis, ekologis, bahkan teologis.

 


Senin, 15 September 2014

Resensi Buku Madre - Dewi Lestari

BY Unknown IN , , , , , , , , No comments

Cover Buku Madre

 Judul : Madre
Penulis: Dewi Lestari
ISBN : 9786028811491
Rilis : 2011
Halaman : 162
Penerbit: Bentang
Edisi: Cetakan kedua




***

Cover bukunya menarik, berwarna orange tua dengan latar sketsa klasik. Sehangat sampulnya, isinya pun adalah sajian hangat. Pertama kali melahap kehangatannya di tahun 2011, saat diterbitkan pertama kali. Selanjutnya, untuk kesekian kalinya yang tak bisa terhitung, seluruh bab demi bab habis dicerna.

Buku ini renyah, lembut, sekaligus menggigit. Madre tak habisnya menyuguhkan cerita serta puisi yang seolah biasa namun luar biasa. Madre menjadi kumpulan tulisan Dee Lestari yang begitu kaya. Terdiri dari 13 fiksi dan prosa pendek.

Cerita pendek tersebut terdiri dari Madre, Have You Ever, Semangkuk Acara Untuk Cinta dan Tuhan, Guruji, dan Menunggu Layang-Layang. Sebagai cerpen pembuka sekaligus judul buku, Madre seperti merampungkan banyak hal dari dialektika pemikan Dee. Ia seorang penulis cerdas, melakukan pencarian hidup, menemukan tujuan, dan mengambil maknanya. Setiap cerpen begitu berwarna, begitu pula pada prosa serta puisinya. Ada pelangi di setiap karya Ibu Suri, sebutan dari penggemarnya.

Kisah Madre, misalnya. Ia sadar bahwa keanekaragaman adalah sesuatu yang niscaya. Kita pasti berbeda. Warna kulit, rambut, asal keturunan, postur tubuh, serta apa yang kita pikirkan. Dee dengan cerdasnya menangkap hal berbeda itu dan membingkainya pada kehidupan seorang Tansen Wuisan. Keturunan India yang kemudian sadar bahwa dalam tubuhnya mengalir darah seperempat Tionghoa. Menarik bukan? Hanya itu yang dikisahkan Dee? Tentu tidak.

Ibu dari Keenan dan Atisha ini juga memiliki ciri khas dalam karyanya. Ia menjunjung tinggi satu hal yang disebut kemanusiaan. Dan sikap itu ia tuangkan bagaimana ia menjaga banyak hal secara manusiawi. Ini bisa kita simak ketika ia menceritakan bahwa biang roti diperlakukan secara manusiawi.

".... Madre mesti dirawat orang muda yang semangatnya baru .... " hal. 7, Madre.

Pada bagian lain malah disebutkan bahwa Madre menjadi warisan.

".... Namun Madre hanya bisa ia turunkan pada seseorang yang punya hubungan langsung ...." hal. 13, Madre.

Juga sapaan yang diberikan pada Madre untuk menunjukkan bagaimana harusnya memperlakukan ia.

".... Sebelum menutup pintunya, Bu Cory sempat-sempatnya berkata, Selamat Istirahat Madre." hal. 41, Madre

Usaha, kerja keras, menyelesaikan konflik, adalah keahlian lain Dee. Dibalik upayanya, ia tak lupa menyisipkan sisi spiritual pada setiap karyanya. Ini terlihat dari berbagai kontemplasi setiap tokoh. Metamorfosis mereka terbangun pada karakter tokoh. Ini menunjukkan bahwa Dee juga mengalami transformasi bersama para tokohnya.

Selamat membaca Madre, selamat mengalami perubahan diri.